PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

‘Benci tapi Rindu’ Antara Google dan Uber | Rifan Financindo Berjangka

8979c07c-852b-42e3-bc1b-ae875734b86d_169

Jakarta, PT Rifan Financindo – Google dan Uber merupakan dua perusahaan teknologi yang tergolong mesra. Namun semenjak sengketa dugaan pencurian data rahasia dagang milik Google oleh Uber, hubungan kedua perusahaan kian memanas.

Alphabet, perusahaan induk Google, menuduh salah satu mantan teknisi utama mereka, Anthony Levandowski, keluar dari perusahaan dengan membawa 14 ribu berkas rahasia yang dimanfaatkan mendirikan perusahaan truk swakemudi bernama Otto. Tak lama kemudian, sang mantan karyawan tadi menjual Otto ke Uber dengan mahar US$680 juta.

Pihak Alphabet yang mengajukan gugatan berasal dari Waymo, unit produsen mobil swakemudi Alphabet. Padahal pada 2013 lalu, Google adalah salah satu mitra paling dekat Uber melalui investasinya.

Saat itu Uber menerima guyuran modal dari Goolge Ventures (GV), unit ventura Alphabet. Uber yang sedang sangat seksi di mata pemodal, menarik perhatian GV.

Alhasil GV melimpahkan investasi hingga US$258 miliar atau setara Rp3,4 triliun ke Uber. Investasi ini dianggap sebagai investasi tersukses yang pernah dilakukan GV setelah nilai investasi mereka berlipat hingga US$3,5 miliar tiga tahun setelahnya.

Selain investasi, kerja sama Google dengan Alphabet juga terjadi di teknologi pemetaan. Seperti yang diketahui, Uber memakai jasa Google Maps untuk operasional aplikasi mereka. Ketergantungan ini pula yang memaksa Uber mempertimbangkan membikin teknologi pemetaan sendiri.

Kompetisi di bidang kendaraan swakemudi kedua perusahaan merupakan pemicu persoalan. Google yang lebih dulu menjalani proyek kendaraan otonom terganggu dengan rencana Uber yang serupa yang diumumkan pada 2015 dengan merekrut puluhan peneliti dari Carnegie Mellon University.

Hasilnya, Uber jadi yang pertama kali memamerkan kendaraan swakemudi di jalan raya Pittsburgh, Amerika Serikat, mendahului Google.

Tak tinggal diam, Google membalas Uber dengan meluncurkan fitur carpooling di aplikasi Waze milik mereka. Uber telah memeperkenalkan fitur carpooling jauh sebelumnya.

Namun posisi Google nampak sulit ketimbang Uber dalam perkara ini. Pasalnya investasi mereka melalui GV di Uber terbilang besar. Sehingga langkah hukum Waymo yang menggugat Uber justru akan merugikan GV.

“Apa pun yang menguntungkan Waymo, akan merugikan Google Ventures,” ucap Stephen Diamond, associate profesor hukum dari Santa Clara University seperti dikutip dari Reuters, Senin (6/3).

Sementara itu Uber menampik semua tuduhan yang diajukan Waymo.

“Kami sudah meninjau klaim Waymo dan menentukannya sebagai tuduhan tak berdasar yang ingin memperlambat kompetitor dan kami tak sabar melawan mereka di pengadilan,” ujar Uber dalam pernyataan resminya.

Salah satu hasil dari pertikaian kedua perusahaan adalah mundurnya David Drummond, senior vice president Google, dari jajaran direksi Uber. Bergabungnya Drummond di direksi Uber merupakan bagian kesepakatan investasi GV pada 2013.