PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Boys Don’t Cry, Benarkah Anak Lelaki Tak Boleh Menangis? | PT Rifan Financindo Berjangka

7b884ab2-d14e-42be-ae98-4fbe75ee4747_43

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -?Beberapa orang tua ada yang langsung mengucapkan ‘Anak laki-laki nggak boleh nangis’ atau ‘Anak laki nggak boleh cengeng’ ketika putranya terjatuh atau melakukan sesuatu hal yang membuatnya ingin menangis.

Dengan kalimat seperti itu, seakan-akan anak lelaki ‘dibentuk’ menjadi pribadi yang tangguh. Apalagi, kegiatan menangis sering diidentikkan dengan anak perempuan.

Nah, hal tersebut juga tak lepas dari pengamatan psikolog anak dan remaja dari RaQQi – Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi. Menurut Ratih, pandangan bahwa anak lelaki tidak boleh menangis bisa terjadi karena ada sebuah habituasi atau budaya yang belum bisa diubah. Di mana, menangis adalah simbol kelemahan dan biasanya yang menangis adalah perempuan.

“Ada sebuah ungkapan bahwa perempuan adalah kaum lemah sehingga ketika laki-laki menangis maka kesimpulannya adalah laki-laki tersebut lemah, padahal laki-laki tidak boleh lemah. Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan itu,” kata Ratih dalam keterangannya.

Menurut wanita berkerudung ini, menangis adalah salah satu bentuk ekpresi perasaan yang sedang dialami dan perlu pemaknaan. Ratih mengatakan, menangis tidak ada kaitannya dengan sebuah kelemahan dan bukan hanya milik perempuan. Selain itu, menangis adalah bukti bahwa hati seseorang tidak ‘mati’ dan masih bisa menerima sebuah sinyal ketidaknyamanan.

Untuk itu, Ratih menyatakan selama menangis hanya merupakan bentuk ekspresi perasaan dan bukan jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi, maka menangis tidak ada salahnya. Sebab, menangis bisa membuat hati lega. Lantas bagaimana baiknya orang tua menyikapi anak yang menangis, baik si anak perempuan ataupun laki-laki?

“Tidak membuat labelling bahwa menangis itu sesuatu yang negatif, terlebih ketika anak menangis setelah dimarahi orang tua. Lalu, berikan kesempatan ruang dan waktu kepada anak untuk melepaskan perasaannya dengan menangis,” kata Ratih.

Jangan lupa, orang tua perlu melakukan identifikasi perasaan yang sedang dialami oleh anak secara mendalam. Caranya, orang tua bisa mengajak anak berbicara atau berdiskusi. Dengan cara ini, biasanya orang tua bisa membantu anak memandang situasi secara realistis. Kemudian, ajak anak mengevaluasi situasi yang membuat mereka menangis.

Lalu, tunjukkan apa yang bisa mereka lakukan selain menangis sehingga masalah dapat terselesaikan dengan baik. Penting pula bagi orang tua memberi dukungan dan bersikap terbuka pada anak. Sehingga, anak bisa bercerita dan bertanya tentang apapun yang mereka risaukan. Orang tua juga bisa mengajari anak macam-macam ekspresi perasaan dan respons seperti apa yang biasanya muncul. Cara ini bisa menambah kemampuan anak dalam mengidentifikasi perasaan mereka.

“Anak laki-laki yang menangis tidak secara linier akan menjadi laki-laki yang lemah di kemudian hari. Anak laki-laki yang menangis artinya dia pernah memiliki pengalaman melepaskan perasaan tidak nyaman dan menanamkan satu nilai dalam diri tentang bagaimana membangun kenyamanan setelah merasakan hal tidak menyenangkan,” papar Ratih.