PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Bursa Saham Global dan Regional Beri Sentimen Negatif

Bursa Saham Global dan Regional Beri Sentimen Negatif

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -?Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin hanya naik 10 poin di tengah perdagangan yang sepi. Belum ada katalis positif yang bisa membuat investor memborong saham.

Menutup perdagangan akhir pekan, Jumat (13/11/2015), IHSG menguat 10,613 poin (0,24%) ke level 4.472,838. Sementara Indeks LQ45 tumbuh 3,562 poin (0,47%) ke level 762,891.

Wall Street mengalami pekan terburuknya dalam tiga bulan terakhir atau Agustus lalu. Investor melepas saham-saham teknologi dan peritel jelang liburan akhir tahun.

Pada penutupan perdagangan Jumat waktu setempat, Indeks Dow Jones jatuh 1,16% ke level 17.245,24 dan Indeks S&P 500 anjlok 1,12% ke level 2.023,04. Indeks Komposit Nasdaq ambruk 1,54% ke level 4.927,88.

Hari ini IHSG diperkirakan akan bergerak negatif jika melihat sentimen yang beredar di bursa global dan regional. Aksi jual diprediksi berlanjut.

Pergerakan bursa-bursa di Asia pagi hari ini:

  • Indeks Nikkei 225 turun 169,95 poin (0,87%) ke level 19.426,96.
  • Indeks Straits Times berkurang 31,69 poin (1,08%) ke level 2.893,99.

Rekomendasi untuk perdagangan saham hari ini
First Asia Capital
Di tengah sentimen negatif pasar global dan kawasan, IHSG akhir pekan lalu bergerak anomali dibandingkan pergerakan bursa kawasan Asia yang bergerak di teritori negatif, menyusul meningkatnya resiko pasar global setelah anjloknya harga minyak mentah dunia. IHSG berhasil tutup menguat 10,613 poin (0,24%) di 4472,838. Penguatan terbatas IHSG dipicu aksi pemodal lokal melakukan rebalancing portofolio dan keluarnya data transaksi berjalan 3Q15 yang dirilis Bank Indonesia (BI) akhir pekan lalu. Defisit transaksi berjalan 3Q15 turun mencapai USD4 miliar (1,86% PDB) dibandingkan 2Q15 sebesar USD4,2 miliar (1,95% PDB). Namun nilai transaksi relatif tipis hanya mencapai Rp3,2 triliun di Pasar Reguler.

Selama sepekan IHSG terkoreksi 2% dan nilai tukar rupiah melemah 0,6% di Rp13633 per US dolar. Koreksi terutama dipicu keluarnya dana asing di pasar saham hingga mencapai Rp1,5 triliun sepekan terakhir. Ini mencerminkan resiko capital outflow masih relatif tinggi.

Sementara bursa saham global akhir pekan kemarin kembali bergerak di teritori negatif. Indeks Eurostoxx di zona Euro terkoreksi 0,8% menyusul melambatnya pertumbuhan ekonomi Jerman 3Q15 sebesar 0,3% (qoq) dibandingkan kuartal sebelumnya 0,4% (qoq). Di Wall Street indeks saham utama tekroreksi di atas 1%. Selama sepekan indeks DJIA dan S&P masing-masing koreksi 3,7% dan 3,6% di 17245,24 dan 2023,04. Harga minyak mentah di AS akhir pekan lalu turun 2,4% di USD40,73/barrel. Selama sepekan harga minyak mentah telah anjlok 8,6%. Harga komoditas yang anjlok, kekhawatiran suramnya outlook perekonomian global dan kenaikan tingkat bunga akhir tahun ini menjadi katalis negatif di pasar saham global sepekan kemarin.

Melanjutkan perdagangan awal pekan ini, perdagangan saham akan cenderung bervariasi dibayangi meningkatnya resiko pasar global. Kondisi ini bisa memicu berlanjutnya arus dana asing yang keluar dari pasar saham. IHSG diperkirakan bergerak dengan support di 4410 dan resisten di 4490 cenderung koreksi.

OSO Securities
IHSG berhasil dicatatkan positif pada akhir perdagangan pekan kemarin dengan naik 0.24% ke level 4,472.84. Mayoritas indeks ditutup menguat dipimpin oleh sektor Basic Industry dan Manufacture yang masing-masing naik 2.05% dan 1.29%. Rilisnya neraca pembayaran Indonesia kuartal III 2015 yang menurun, tercatat $ 4 miliar atau 1.86% PDB atau lebih baik dari defisit sebelumnya yaitu 3.02% dari PDB atau senilai $4,47 miliar. Sementara, rupiah masih tercatat melemah 0.64% ke level Rp 13,685.

Dari bursa Asia mayoritas indeks mengalami pelemahan yang dipimpin oleh indeks Hangseng dan Shanghai yang masing-masing melemah 2.15% dan 1.43% pelmahan indeks Hangseng dipicu oleh turunnya GDP hongkong kuartal III yang hanya 2% dari periode sebelumnya 2.3%.

Akhir perdagangan pekan kemarin mayoritas indeks utama Wall Street ditutup melemah di atas 1%. Indeks Dow Jones terkoreksi 1.15% ke level Rp 17,245.23, indeks S&P 500 melemah 1.12% ke level 2,023.04, dan indeks Nasdaq turun 1,54% ke level 4,597.88. Selama seminggu ini, rata-rata indeks AS sudah anjlok lebih dari 3.5%, terburuk sejak 6 minggu lalu. Pelemahan tersebut masih dipicu oleh penurunan harga minyak yang tertekan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Selain itu, rilisnya data Producer Price Index bulan Oktober yang kembali negatif dengan turun sebesar – 0.4% atau lebih rendah dari ekspektasi pelaku pasar yang berada di 0.2%, serta data Retail Sales bulan Oktober yang lebih rendah dari ekspektasi pasar yang hanya tumbuh 0.1% (MoM) dari perkiraan sebelumnya 0.3% (MoM) ikut menjadi katalis negatif pada perdagangan saham akhir pekan kemarin.

Sementara itu, indeks Utama Eropa juga ikut mencatatkan koreksi pada akhir pekan kemarin, indeks FTSE turun 0.98% ke level 6118, DAX melmeah 0.69% ke level 10.708 dan CAC terkoreksi 1% ke l;evel 4808. Rilisnya GDP Kawasan Zona Eropa kuartal III yang hanya 0.3%, lebih rendah dari periode sebelumnya 0.4% atau lebih rendah dari ekpektasi pelaku pasar 0.4%, ikut menjadi katalis negarid pada perdagangan akhir pekan kemarin.

Kami perkirakan hari ini IHSG berpeluang menguat namun masih rawan koreksi mengingat sentiment negative indeks regional Asia yang rata-rata dibuka terkoreksi lebih dari 0.75%, seperti indeks ST- Times, Kospi dan Nikkei 225. Secara teknikal, IHSG sudah berada di area middle bollingerband, dengan indikator stochastic oscilator sudah membentuk goldencross pada area jenuh jual. Selain itu histogram MACD juga positif. Namun indikator MFI dan RSI masih bearish.

 

Sumber:?http://finance.detik.com/