PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Dana Asing Mengalir Deras ke RI, Kok Dolar AS Bertahan di Rp 13.000? | PT Rifan Financindo Berjangka

Ilustrasi-uang-dollar-AS

Jakarta,?Rifan Financindo Berjangka -?Dana asing masuk cukup signifikan ke pasar keuangan dalam negeri selama beberapa waktu terakhir. Hal ini menyusul sentimen positif yang muncul, mulai dari berlakunya kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty, hingga bergabungnya Sri Mulyani Indrawati ke kabinet kerja.

Akan tetapi nilai tukar rupiah tampak tenang. Dolar Amerika Serikat (AS) hanya bergerak pada kisaran Rp 13.100. Ada kecenderungan Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi menahan penguatan rupiah. BI harus menjaga kestabilan nilai tukar rupiah agar tidak terlalu melemah atau terlalu menguat.

“Kalau dilihat yield bond turun, kalau lihat IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) naik, rupiah hanya mungkin agak nggak bergerak, stabil. Menurut saya ada sebagian efek mungkin dari BI,” ungkap Leo Putra Rinaldy, Analis Mandiri Sekuritas, dalam diskusi di Hotel Westin di Nusa Dua, Bali, Minggu malam (31/7/2016).

“Kalau memang benar nih tesisnya bahwa ini akibat intervensi BI, maka cadangan devisa di Juli seharusnya naik. Karena BI kan akumulasi, dolar AS kan untuk intervensi penguatan rupiah yang terlalu besar. Jadi kalau misalnya nanti cadangan devisa BI di Juli tinggi dari normal berarti mungkin ini karena BI intervensi,” terangnya.

Langkah intervensi tersebut, Leo menilai sangat tepat. Penguatan rupiah terhadap dolar AS memang sudah diperkirakan, namun BI tetap harus menjaga agar stabil sesuai fundamental.

“Ini bagus, karena yang diinginkan investor selama ini, ingin rupiah yang nggak terlalu menguat dan terlalu lemah. Dia maunya stabil. Dengan BI menjaga ini harusnya positif,” papar Leo.

Pada kesempatan yang sama, Rangga Cipta, Analis Samuel Sekuritas Indonesia menambahkan, baik BI maupun pemerintah menyadari bahwa dana asing yang masuk dipengaruhi oleh sentimen. Dana asing masuk bukan karena fundamental ekonomi Indonesia yang membaik secara drastis. Maka dari itu penguatan rupiah harus ditahan.

“BI dan pemerintah menyadari hot money itu bahaya dalam masa depan. jangan sampai rupiah terlalu kuat kenapa, karena ketika nanti ternyata inflow (arus dana asing masuk) ini hanya temporer, maka efek outflow (arus dana asing keluar) ini akan lebih menyakitkan, jadi saya pikir memang ada keinginan dari BI menjaga rupiah lebih stabil,” terang Rangga pada kesempatan yang sama.

Dengan kondisi sekarang, Rangga menilai angka Rp 13.000/US$ sudah mencerminkan fundamental. Ini dikarenakan tidak banyak perubahan yang terjadi pada inflasi maupun defisit transaksi berjalan.

“Jadi yang perlu diperhatikan paling enggak penguatan persentasinya tidak terlalu signifikan di atas waktu yang singkat. Kalau dihitung mungkin di kisaran 13.000/US$ itu sudah mencerminkan fundamental. Karena memang belum banyak yang berubah, yang berubah kan hanya ekspektasi dan juga masalah inflow,” jelasnya.

(id, Rifan Financindo)