PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Disentil JK Turunkan Suku Bunga, Agus Marto: BI Jaga Rupiah

Disentil JK Turunkan Suku Bunga, Agus Marto: BI Jaga Rupiah

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -?Ada yang seru dalam gelaran Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) 2015 tadi malam. Di tengah kuatnya BI menahan tingkat suku bunga acuannya atau BI rate, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) justru secara menggebu dan blak-blakan meminta BI rate diturunkan.

Hal itu disampaikan JK langsung kepada Gubernur BI Agus Martowardojo di hadapan para bankir. Memang, dua mazhab mereka berbeda. BI sebagai otoritas moneter menginginkan stabilitas, sementara pemerintah mendorong pertumbuhan.

Tentu, keduanya akan sulit jika harus dilakukan bersamaan. Salah satu harus mengalah. Apa komentar Agus?

“Pak Wapres mengingatkan pada kita semua bahwa BI adalah otoritas moneter dan dari mandat UU yang diberikan pada BI adalah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dengan menjaga inflasi dan nilai tukar terhadap mata uang lainnya,” jelas dia usai Pertemuan Tahunan BI 2015, di Assembly Hall JCC, Senayan, Selas (24/11/2015).

Sesuai dengan amanat tersebut, Agus mengatakan, sudah sepatutnya BI menjaga baik-baik fluktuasi nilai tukar rupiah.

Jika BI rate diturunkan, ada kekhawatiran aliran dana asing keluar karena ada kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunganya tahun ini.

Selain itu, inflasi juga harus dijaga di level rendah agar daya beli masyarakat tidak tertekan.

Di sisi lain, pemerintah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi agar bisa terus meningkat. Saat ini kondisinya memang melambat.

JK menilai, dengan suku bunga rendah, permintaan kredit bisa meningkat yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Pemerintah itu tujuan utama daripada kegiatan dan aktifitasnya adalah untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan menyediakan lapangan kerja, tetapi sebetulnya dengan inflasi yang rendah dan nilai tukar yang terjaga, itu nanti menciptakan masyarakat yang sejahtera dan makmur,” paparnya.

Agus menyebutkan, BI tidak ingin mengulang tingginya angka inflasi di tahun 2013-2014. Saat itu, angka inflasi mencapai 8%.

“Sekarang inflasinya di tahun 2015 di akhir tahun akan di bawah 4%, kalo indo bsia terus jaga inflasi rendah dan stabil ini baik sekali. Karena negara-negara tetangga kita di ASEAN itu hampiir semua yang besar-besar tu inflasinya hampir 3%. Nah kalau Indonesia sudah bisa mengarah kesitu akan baik,” katanya.

Dengan inflasi rendah dan didukung nilai tukar rupiah, Agus mengungkapkan, pelonggaran kebijakan moneter bisa disesuaikan.

“Kalau inflasinya sudah rendah, kalau nanti kondisi eksternalnya kita sudah lebih stabil itu bisa membuat tingkat bunga menjadi lebih rendah ya,” ucap dia.

Meski demikian, perlu diperhatikan juga faktor eksternalnya.

“Tetapi kita mesti hati-hati pada saat kondisi eksternal dan dunia masih tidak stabil, kalau tidak hati-hati dalam mengelola moneter itu bisa bikin nilai tukar jatuh, atau pun kondisi masalah likuiditas bisa berpengaruh,” kata dia.

Jadi, tambah Agus, ke depan pemangku kepentingan harus saling mengkonfirmasi dan koordinasi. Arah BI rate juga akan disesuaikan dengan kondisi eksternal.

“Kita lihat 3 kondisi utama yaitu perkembangan di AS, perkembangan di harga komoditi yang terus melemah, dan perkembangan di Eropa maupun China,” pungkasnya.

 

Sumber:?http://finance.detik.com/