PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Dolar Menguat, Harga Minyak Turun Tajam

minyak dunia

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka – Penguatan nilai tukar dolar AS menekan harga minyak dunia hingga turun tajam pada Selasa (Rabu pagi WIB), menambah tekanan dahsyat di pasar dari membanjirnya pasokan global.

Seperti dilansir AFP, Rabu (11/5/2015), patokan Amerika Serikat, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April anjlok 1,71 dolar AS menjadi ditutup pada 48,29 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan April jatuh 2,14 dolar AS menjadi menetap di 56,39 dolar AS per barel. Patokan global telah jatuh dalam enam dari tujuh sesi perdagangan terakhir.

Dolar naik terhadap mata uang utama lainnya, mencapai tingkat tertinggi dalam hampir 12 tahun terhadap euro, di tengah kekhawatiran terhadap negosiasi utang Yunani dan ekspektasi The Federal Reserve Amerika Serikat segera menaikkan suku bunga.

Data penggajian non-pertanian Amerika Serikat yang positif untuk Februari telah mengangkat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya pada pertengahan tahun ini, yang memberikan dorongan terhadap dolar AS.

Bank sentral Amerika Serikat telah mempertahankan suku mendekati nol selama hampir tujuh tahun untuk mengangkat perekonomian.

“Jelas penguatan dolar AS akhirnya mengejar pasar minyak,” kata John Kilduff dari Again Capital, yang mencatat bahwa reli greenback juga memukul pasar saham, terutama saham industri minyak.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,6 persen pada perdagangan sore, sementara indeks FTSE 100 di London turun 2,5 persen.

Penguatan greenback membuat minyak yang dihargakan dalam dolar lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lemah, sehingga mengurangi permintaan.

Pengamat pasar umumnya memperkirakan pasokan yang berlimpah hanya akan menambah buruk, sebagian karena permintaan akan sedikit berkurang karena awal musim semi di belahan Bumi utara.

Laporan prospek pasar Departemen Energi Amerika Serikat yang dirilis Selasa, memproyeksikan berlanjutnya penumpukan besar dalam persediaan minyak mentah AS untuk tahun ini, termasuk di pusat penyimpanan di Cushing, Oklahoma.

Karena produksi minyak Amerika Serikat meningkat, stok minyak mentah komersial baru-baru ini telah mencapai rekor tertinggi minggu demi minggu.

Laporan persediaan minyak mingguan Departemen Energi Amerika Serikat berikutnya, yang keluar pada Rabu, diperkirakan menunjukkan peningkatan lain.

Kelebihan pasokan global terus membebani pasar. Total produksi minyak mentah Amerika Serikat diperkirakan rata-rata 9,4 juta barel per hari pada Februari menurut prospek energi yang dirilis Badan Informasi Energi (Energy Information Administration/EIA) pada Selasa.

EIA memproyeksikan rata-rata produksi minyak mentah AS mencapai 9,3 juta barel per hari pada 2015 dan 9,5 juta barel per hari pada 2016, mendekati 9,6 juta barel per hari, tingkat rata-rata tertinggi tahunan produksi Amerika Serikat pada 1970.

Sementara itu, ada sedikit tanda untuk Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang memproduksi sepertiga minyak dunia, akan memangkas kuota produksi kolektif dari 30 juta barel per hari, dalam menanggapi kemerosotan harga minyak.

Sumber:?http://economy.okezone.com/