PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Dollar Terjebak Dalam Range Sempit Karena Stimulus Moneter

dolar naik

Dolar siap untuk diperdagangan dalam rentang kuartalan tersempit setidaknya hampir dua tahun terakhir terhadap yen dan euro karena keberlanjutan stimulus dari bank sentral di ekonomi terbesar dunia yang mendorong volatilitas harganya menuju rekor terendah.
Bloomberg Dollar Index Spot di perdagangan hampir mendekati kisaran tersempitnya dalam sebulan terakhir sebelum laporan hari ini yang mungkin menunjukkan penyusutan ekonomi AS yang melebih dari perkiraan analis sebelumnya, mendasari spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan tingkat biaya pinjaman yang mendekati nol. Euro siap untuk penurunan kuartalan setelah Bank Sentral Eropa mengambil salah satu suku bunga utama negatifnya bulan ini. Dolar Australia memperpanjang penurunan setelah negara itu menurunkan estimasi untuk nilai ekspor sumber daya dan energi.
Dolar sedikit berubah pada ¥ 101,92 pukul 09:04 di Tokyo, siap untuk penurunan 1,3 persen di kuartal ini. Euro dibeli pada level $ 1,3605 dari posisi $ 1,3606 kemarin, setelah jatuh 1,2 persen sejak 31 Maret dan siap untuk penurunan kuartalan pertama sejak tiga bulan sampai Maret 2013. Mata uang itu kehilangan 0,1 persen menjadi ¥ 138,68. Sementara itu, Aussie jatuh 0,1 persen menjadi 93,58 sen AS setelah melemah 0,6 persen kemarin.
Perbedaan antara 3.31-yen tertinggi dolar di ¥ 104,13 dan terendah di ¥ 100,82 kuartal ini adalah yang terkecil sejak tiga bulan yang berakhir September 2012, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg. Kesenjangan antara 4,9 sen AS dengan level terkuat euro di $ 1,3993 dan terlemahnya di $ 1,3503 selama periode yang sama adalah yang terkecil setidaknya sejak kuartal kedua 2007.
Bloomberg Dollar Spot Index, yang melacak kinerja greenback terhadap 10 mata uang utama lainnya sedikit berubah pada 1,010.10 setelah naik 0,1 persen kemarin. Jatuh ke 1,008.19 pada 19 Juni, terendah sejak 21 Mei.
Sebuah ukuran volatilitas mata uang dari Deutsche Bank AG jatuh ke 5,34 persen, mendekati penutupan rekor rendah 5,28 persen pada 19 Juni lalu .
Sumber: Bloomberg