PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Duet Owi & Butet: Berjaya di All England, Juara Dunia, Kini Medali Emas Olimpiade | PT Rifan Financindo Berjangka

b329f44c-cd40-4efd-ae40-10ae4a0add79_169

Jakarta,?Rifan Financindo Berjangka -?Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir membuktikan diri sebagai ganda campuran terkuat di dunia dengan meraih medali emas Olimpiade 2016 Rio. Tak selamanya di atas, penampilan mereka sempat naik turun.

Pelatih pelatnas nomor ganda campuran, Richard Mainaky, sempat kesulitan kala mencari pasangan baru buat Liliyana Natsir. Dia butuh pemain putra dengan kemampuan di atas rata-rata dan (lebih penting) mempunyai mental juara. Sebab, Richard tak bisa salah pilih. Liliyana yang tengah dicarikan pasangan itu adalah seorang pemain yang tak pernah mau kalah. Dia juga telah masuk jajaran elite dunia.

Menilik usia, Liliyana juga masih punya waktu cukup panjang untuk menjalani kariernya. Di tahun 2010 itu, saat diceraikan dengan Andreas Nova Widianto, Liliyana masih berumur 25 tahun.

53b2c176-006a-4f2e-b33d-3546df2c1240_169

Pada usia itu Liliyana sudah mengoleksi sederet gelar juara. Di antaranya juara dunia dua kali (2005 dan 2007), juara Asia 2006, dan sederet titel turnamen individu.

Permasalahannya, Nova telah berkepala tiga. Para rival tak akan mengajak adu teknik, tapi berupaya untuk menguras tenaga Nova. Penampilan mereka terus merosot sejak Kejuaraan Dunia 2009. All England di tahun berikutnya juga berakhir kurang manis.

Kabar perceraian Nova dan Butet–sapaan karib Liliyana–diwacanakan dan makin kencang berhembus seelah Liliyana mulai diturunkan bersama pasangan yang berbeda-beda pada turnamen individu. Suatu kali dengan Devin Lahardi atau Mohammad Rizal, sesekali dengan Tontowi.

Kepastian masa depan Liliyana dijawab Richard menjelang Asian Games 2010 Guangzhou. Dia tak memasukkan nama Nova ke dalam skuat Indonesia ke Asian Games 2010 Guangzhou dan menggantinya dengan Tontowi. Padahal kala itu Nova dan Liliyana masih berada di urutan pertama dunia.

“Owi mempunyai sorot mata juara,” kata Richard waktu itu. Richard memilih untuk mengorbankan Asian Games demi masa depan ganda campuran yang lebih sip.

Benar, Owi/Liliyana harus pulang cepat dari Guangzhou usai tersingkir di babak 16 besar. Namun, Owi/Liliyana segera membayarnya di tahun 2011 dengan meraih dua juara super series dan menggondol medali perunggu Kejuaraan Dunia.

Di tahun berikutnya, Owi/Butet meraih gelar All England pertama mereka. Harapan pun ditumpukan kepada pasangan itu pada Olimpiade. Sayangnya, mereka tak berhasil membawa pulang medali satupun.

Tak patah arang, keduanya malah seolah mencari pelampiasan di sepanjang tahun 2013. Tontowi/Liliyana berhasil membukukan empat gelar juara super series, termasuk All England, dan menjadi juara dunia.

39f272a1-79df-4b0d-aeb9-60f6c1077243_169
Memasuki tahun 2014, Tontowi/Liliyana masih menunjukkan konsistensinya. Mereka menahbiskan diri sebagai juara All England ketiga kalinya. Dua gelar super series lain juga didapatkan. Namun, Owi/Butet menunjukkan penurunkan di periode akhir pada tahun itu. Mereka juga mulai kesulitan mengalahkan pasangan China, Zhang Nan/Zhao Yunlei, yang nantinya bakal jadi musuh bebuyutan.

Tahun itu juga kurang sip dengan cederanya Owi hingga harus absen dari Kejuaraan Dunia. Emas Asian Games juga melayang setelah Tontowi/Liliyana dikalahkan Zhang Nan/Yunlei di final.

Tahun 2015 menjadi periode suram bagi Tontowi/Liliyana. Tak ada gelar juara dari turnamen super series, dengan enam di antaranya digagalkan oleh Zhang Nan/Yunlei. Satu kekalahan menyakitkan juga diraih saat mereka berhadapan di Kejuaraan Dunia 2015 di Istora, Jakarta.

Situasi itu tak membaik saat memasuki tahun 2016. Owi/Butet cuma meraih satu gelar juara, yakni di Malaysia Terbuka. Dalam pengumpulan poin Olimpiade bahkan mereka gagal menjadi unggulan kedua seperti skenario yang diinginkan pelatih. Masyarakat mulai kehilangan kepercayaan kepada mereka berdua. Liliyana dinilai telah kehilangan kecepatan, sedangkan Tontowi telah kehilangan motivasi untuk jadi pemenang.

Tapi rupanya derertan hasil kurang sip itu justu menjadi bahan bakar Owi/Butet untuk berbenah. Mereka memanfaatkan jeda Kejuaraan Asia sebagai akhir pengumpulan poin olimpiade hingga Olimpiade sebagai masa bertapa Tontowi/Liliyana. Di Riocentro, Owi/Butet membuktikan masih ganda campuran terkuat sejagad raya. Kombinasi semua itu terwujud dalam sekeping emas Olimpiade untuk Indonesia.

(id, RifanFinancindo)