PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Eks Agen Secret Service Sebut Gedung Putih Era Clinton Bagai Rumah Bordil

ee252ef7-7dd2-4c42-b413-c4c4507f1d87_169

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka – Mantan agen Secret Service menyebut Gedung Putih pada era Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton bagaikan rumah bordil. Menurut agen itu, Clinton semasa menjabat memiliki beberapa wanita simpanan sekaligus di Gedung Putih.

Seperti dilaporkan New York Post dan dilansir news.com.au, Senin (20/6/2016), eks agen Secret Service bernama Gary J Byrne yang bertugas mengawal Ruang Oval Gedung Putih saat Clinton menjabat, mengungkapkan perselingkuhan Clinton selain dengan Monica Lewinsky.

Dalam bukunya berjudul ‘Crisis of Character: A White House Secret Service Officer Discloses His Firsthand Experience With Hillary, Bill, and How They Operate’ yang akan dirilis pada 28 Juni mendatang, Byrne mengaku pernah memergoki Clinton bermesraan dengan Eleanor Mondale, jurnalis televisi yang juga putri mantan Wakil Presiden Walter Mondale, yang menjabat di bawah kepemimpinan Presiden AS ke-42 Jimmy Carter.

Namun, sebut Byrne, masih ada beberapa selingkuhan Clinton lainnya selain Lewinsky dan Eleanor. Salah satunya ialah petugas resepsionis Gedung Putih yang tidak disebut namanya. Hal itu sebut Byrner, terungkap pada akhir tahun 1996 atau awal tahun 1997, ketika skandal Whitewater yang menyeret investasi real estate keluarga Clinton dan kasus Paula Jones yang mengklaim dilecehkan Presiden Clinton, tengah diselidiki oleh hakim AS Ken Starr.

“Eleanor Mondale dan Monica Lewinsky tidak bisa memuaskan gairah seksual presiden yang kuat,” sebut Byrne.

Bryner mengaku saat itu didekati staf militer senior AS, Nel, yang sejak lama bertugas di bagian pantry Gedung Putih yang menanyakan soal bekas noda aneh di salah satu handuk berlogo cap Gedung Putih. Keduanya, sebut Byrne, kompak mencurigai noda pada handuk yang ditemukan di ruang belajar itu merupakan bekas air mani.

“Nel menjelaskan bahwa dirinya menemukan — dan membersihkan — sejumlah handuk dengan noda air mani dan bekas lipstik selama beberapa minggu terakhir. Saya terkejut. Jika noda itu tidak hilang, dia dengan hati-hati membersihkannya dengan tangan. Dia takut jika dia menyerahkannya kepada personel lainnya, dia tidak hanya membuka affair Bill Clinton, tapi juga mempermalukan kepresidenan AS sendiri,” terang Byrne dalam bukunya.

Byrne meyakini lipstik itu bukan milik Lewinsky dan informasi itu disampaikan kepada penyidik yang menginterogasinya beberapa tahun kemudian. Kepada penyidik, Byrne mengaku yakin lipstik itu berasal dari ‘petugas resepsionis Sayap Barat’ di Gedung Putih. Bahkan, Byrne menyebut dirinya beberapa kali membawa pergi handuk-handuk bernoda dengan kantong sampah dan membuangnya di luar kompleks Gedung Putih.

“Kami heran, bagaimana dia bisa melakukan semuanya dan melontarkan lelucon soal dirinya lebih ahli mengelola rumah bordil di distrik merah daripada Gedung Putih,” tulis Byrne yang menyebut Gedung Putih memang terasa bagai rumah bordil saat itu.

Belum ada tanggapan dari keluarga Clinton soal klaim Byrne ini.

 

Sumber: Detik