PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Harga Gas Mahal | PT Rifan Financindo Berjangka

Harga Gas Mahal, Pengusaha Keramik: Bagaimana Mau Bersaing?

Jakarta,?Rifan Financindo Berjangka -?Harga gas untuk industri di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura. Para pengusaha keramik mendesak pemerintah menurunkan harga, karena mempengaruhi biaya produksinya dan mempengaruhi daya saing.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Elisa Sinaga, mengatakan harga gas yang mahal berdampak pada industri keramik yang rata-rata mempengaruhi biaya produksinya sebesar 35%. Hal itu mempengaruhi daya saing industri keramik di Indonesia, karena beberapa negara tetangga menjual gasnya sekitar US$ 4-5 per MMBbtu di Singapura, sedangkan di Indonesia lebih mahal berkisar US$ 9 per MMBtu-US$ 14 per MMBtu.

“Bagaimana kita mampu berdaya saing kalau harga gas kita masih terlalu tinggi,” ujar Elisa, ketika dihubungi detikFinance, Senin (5/9/2016).

Dengan besarnya harga produksi, para penggerak industri keramik justru terpaksa menjual produknya dengan berhati-hati, khususnya dari sisi harga karena daya beli konsumen sedang turun. Kondisi ini membuat perusahaan yang tidak kuat terpaksa mengurangi tenaga kerjanya dan menurunkan kapasitas produksi.

“Ada juga perusahaan yang kuat misal subsidi internalnya dalam artian biaya produksi dan jualnya hampir tidak ada margin, tapi kalau kondisi ini terus menerus, lama-lama membuat industri turun lagi, menjadi kapasitasnya turun, sekarang kan industri keramik sudah mengurangi tenaga kerjanya karena utilitasnya turun, tadinya rata-rata 95% sudah turun 65% dan ini kan maslah yang serius dalam arti penciptaan lapangan pekerjaan, industrinya melemah atau disebut deindustrialisasi,” ujarnya.

Elisa menyebut, rata-rata pengusaha industri keramik membeli gas dari supplier besar BUMN, seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan anak usaha Pertamina yaitu Pertagas. Namun, ada beberapa pelaku usaha industri yang tidak mengetahui permainan para trader atau calo, yang membuat harga gas yang mahal.

“Ada kalanya beberapa industri tertentu yang baru, terdesak, dan tidak mengerti membeli gas dari distributor yang memiliki hubungan langsung ke anak perusahaan Pertamina atau anak perusahaan PGN, tapi ini tidak banyak. Ini bukan menjadi alasan pemerintah yang mengatakan harga gas tidak bisa diturunkan, yang major saja langsung membeli dari PGN atau Pertamina,” katanya.

Berbagai regulasi telah diterbitkan pemerintah sejak tahun 2015 untuk menurunkan harga gas, namun menurut Elisa tidak berdampak hingga saat ini, karena harga gas masih cukup mahal. Ia menuntut harga gas turun hingga sekitar US$ 6 per MMBtu agar menyelamatkan pelaku industri keramik.

“Implementasikan dong berapa silakan saja dari sekian dolar itu. Kita sekarang dibanding 2014-2015 mulai turun lesu kira-kira penurunan 15 sampai 20 persen. Utilitas 65 persen jadi turun beberapa dibandingkan kapasitas normal. Tidak hanya karena harga gas tapi industri ekonomi, daya saing industri itu biasanya paling besar energi sangat mempengaruhi ketahanan,” ujar Elisa.

(id, RifanFinancindo)