PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Harga Minyak Turun Tertekan Data Ekonomi China

1450467shutterstock-92642941780x390

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -?Harga minyak dunia jatuh karena data manufaktur di China mengecewakan, konsumen energi terbesar di dunia, memukul prospek permintaan dan mengguncang kepercayaan pasar.

Seperti dilansir AFP, Rabu (2/9/2015), patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, kehilangan USD3,79 atau 7,7 persen menjadi ditutup pada USD45,41 per barel di New York Mercantile Exchange.

Aksi jual menghentikan kenaikan kuat WTI selama tiga hari berturut-turut yang telah mendorong kontrak berjangka naik lebih dari 27 persen, berbalik naik (rebound) dari tingkat terendah enam setengah tahun.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Oktober berakhir di USD49,56? per barel, menukik USD4,59 atau 8,5 persen, dari penutupan sebelumnya.

Kesulitan ekonomi Tiongkok sekali lagi memukul pasar di seluruh dunia. Data resmi yang dirilis pada pagi hari menunjukkan sektor manufaktur kunci negara itu terhenti pada Agustus. Indeks pembelian manajer (PMI) merosot ke terendah dalam tiga tahun di 49,7 pada Agustus dari 50,0 pada Juli. Angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Raksasa keuangan AS Citigroup mengatakan bahwa Tiongkok mendorong harga komoditas-komoditas, termasuk minyak, lebih rendah “yang belum pernah sebelumnya.”

“Kami perkirakan Tiongkok akan terus menekan turun harga komoditas dalam beberapa bulan mendatang,” katanya.

Pertumbuhan manufaktur juga tampak terhenti di ekonomi utama dunia Amerika Serikat. Indeks pembelian manajer (PMI) sektor manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM) meluncur lebih dekat dengan kontraksi pada Agustus, jatuh menjadi 51,1, terendah tahun ini, dari 52,7 pada Juli.

Para analis mengatakan kelebihan pasokan minyak mentah global tetap menjadi hambatan pada harga, meskipun berbalik naik tajam dalam tiga hari terakhir.

“Meskipun produksi AS telah mulai turun, produksi Juni masih naik 7,1 persen dibanding setahun lalu,” kata Nicholas Teo, analis pasar di CMC Markets.

“Dalam waktu dekat, ada kemungkinan akan sedikit atau tidak ada bantuan baik pada sisi pasokan atau permintaan,” kata konsultan bisnis IHS.

“Secara khusus, masalah kelebihan pasokan bisa memakan waktu yang lama untuk terkoreksi.”

Sumber:?http://economy.okezone.com/