PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

IHSG ‘Merah’, Analis Saham: Dolar Rp 13.000 Sudah Jadi Alarm

IHSG Merah, Analis Saham: Dolar Rp 13.000 Sudah Jadi Alarm

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masuk dalam tren melemah yang cukup parah dalam beberapa hari terakhir. Banyak faktor yang membuat indeks acuan itu terjun bebas.

Senior Fund Manager BNI Asset Management, Hanif Mantiq, mengatakan melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I-2015 sudah memberi sentimen negatif ke pelaku pasar.

“Pertumbuhan ekonomi zaman SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) itu (pertumbuhan ekonomi) kita bisa sampai 7%, sekarang jadi 4,7%. Dan itu lebih rendah dalam 10 tahun terakhir,” katanya kepada detikFinance, Senin (15/6/2015).

Pemerintah sudah mencoba menenangkan pasar dengan membidik pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa sampai 5,2%. Namun, tetap saja pelaku pasar meresponsnya dengan negatif.

“Kedua karena pencabutan subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak). Kalau dari sisi spending (belanja anggaran) kan bagus. Ada pengalihan dana dari subsidi ke infrastruktur, cuma memang kapan realisasinya, ini yang buat investor ini cemas,” jelasnya.

Dicabutnya subsidi BBM ini berpengaruh kepada tingkat inflasi yang mencapai 6,7% dari sebelumnya 6%. “Ini bikin situasi ekonomi sangat tidak menentu, jadi bikin investor di pasar modal grogi,” ucapnya.

Menurut Hanif, bila pemerintah ingin IHSG kembali naik tinggi, maka inflasi harus dijaga dengan stabil, ditambah dengan nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Kalau kondisi ekonomi bisa dijaga dengan baik sampai akhir tahun, kemungkinan inflasi akan ada di titik 5%. Dari yang sebelumnya keenakan subsidi BBM, sekarang daya beli masyarakat langsung terkikis, belum lagi ongkos distribusi dan operasi emiten itu juga turun,” ujarnya.

Namun demikian, Hanif memprediksi ekonomi Indonesia bisa pulih menjelang akhir 2015, bila bisa melewati masa-masa suram ini dengan baik.

“Tapi hal ini pun dengan catatan rupiah juga harus stabil. Investor ini juga sangat rentan dengan perubahan mata uang, apalagi investor asing. Kalau kurs sampai Rp 13.000 ke atas jelas ini kondisi alarm buat investor. Saya tidak bisa bayangkan reaksi investor pasar modal kalau rupiah sampai Rp 14.000,” ujarnya.

Sumber: http://finance.detik.com/