PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Ini Alasan Banyak Dolar AS Masih Bertahan di RI

Ini Alasan Banyak Dolar AS Masih Bertahan di RI
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka?- Dolar Amerika Serikat (AS) menjadi begitu perkasa terhadap berbagai mata uang dalam sepekan terakhir, termasuk terhadap rupiah. Dolar AS diibaratkan kabur dari berbagai negara yang dianggap berisiko tinggi.

Ini tak lepas dari pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), Janet Yellen yang berniat menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menilai penguatan dolar AS terhadap banyak negara cukup drastis. Namun bila terhadap rupiah tampak tertahan akibat masih adanya sentimen positif investor ke Indonesia.

“Pelemahan rupiah saya lihat masih terbatas,” ujarnya kepada detikFinance,Senin (30/5/2016).

Sentimen positif ini bersumber dari data-data fundamental perekonomian Indonesia. Pada kuartal I, ekonomi masih tumbuh 4,9%, defisit transaksi berjalan (current account defisit) 2,14% dan inflasi per April 2016 terjaga pada level 3,6% (year on year).

“Masih ada sentimen positif dari investor terhadap fundamental perekonomian Indonesia,” jelas Josua.

Di samping itu, ada optimisme dari investor bahwa Standard & Poor’s akan menaikkan peringkat Indonesia menjadi investment grade pada Juni mendatang. Penilaian dari Standard & Poor’s sangat penting untuk mendorong peningkatan investasi di dalam negeri.

Optimisme lainnya adalah terkait pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) pengampunan pajak atau tax amnesty oleh pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang cukup lancar. Ditargetkan selesai pada pertengahan Juni dan berlaku 1 Juli 2016.

“Ini sangat ditunggu oleh market, rating dari Standard & Poor’s dan hasil pembahasan RUU tax amnesty,” terangnya.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Ekonom Kenta Institut Eric Sugandi. Pemerintah harus dapat mempertahankan kondisi ekonomi dalam negeri tetap stabil meskipun ada persoalan yang muncul dari eksternal.

“Fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih tidak jelek,” kata Eric

Menurut Eric, Bank Indonesia (BI) juga memberikan peranan penting untuk menjaga volatilitas nilai tukar rupiah agar tidak bergerak terlalu liar menjauh dari nilai fundamentalnya, yakni 12.800-13.300/US$.

“BI diharapkan juga ada di pasar untuk volatilitas rupiah tidak terlalu besar,” terangnya.

Sumber:?http://finance.detik.com/