PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Ini Penyebab Harga Ayam Melonjak Hingga Rp 35.000/Ekor di Awal Tahun

Ini Penyebab Harga Ayam Melonjak Hingga Rp 35.000/Ekor di Awal Tahun
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka?- Harga jagung lokal yang melonjak tajam sejak Oktober tahun lalu. Ditambah larangan impor jagung, membuat harga pakan ayam melonjak drastis. Dampaknya, harga ayam hidup di tingkat peternak dan pedagang pasar ikut melambung. Di Jakarta, harga daging ayam saat ini dipatok Rp 35.000/ekor.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), FX Sudirman mengatakan, kenaikan harga ayam akhir-akhir ini yang paling dominan dipengaruhi oleh kenaikan harga pakan ayam.

Hal ini merupakan imbas mahalnya harga jagung di tingkat petani, di sisi lain penggunaan jagung impor sampai saat ini masih dilarang Kementerian Pertanian (Kementan).

“Sekarang harga jagung lokal sudah Rp 6.500/kg, tapi impor dilarang. Jagung yang sudah di gudang disegel, karena Kementan beralasan itu akan merusak harga di petani. Kalau jagung mahal, produsen pakan bebankan ke peternak, akhirnya harga ayam hidup di konsumen ikut mahal,” ujarnya pada detikFinance, Senin (25/1/2016).

Menurut Sudirman, pengusaha pakan juga mendukung serapan jagung dari petani. Namun seharusnya Kementan juga bisa melihat kondisi jagung di lapangan yang memang sedang mengalami kelangkaan.

“Ini masalah suplai dalam negeri, silakan dibatasi (impor jagung), tapi harus lihat timing. Karena akhir tahun sampai sekarang panen jagung terlambat, baru mulai hujan kan setelah kekeringan panjang. Harga jagung lokal sudah Rp 6.500/kg,” ungkapnya.

Berdasarkan data GPMT, lonjakan harga jagung lokal sudah terjadi sejak Agustus tahun lalu yakni Rp 3.600/kg dari harga sebelumnya Rp 3.200/kg. Kemudian naik menjadi Rp 4.800/kg pada November, kemudian di akhir tahun menjadi Rp 5.500/kg. Sementara di Januari harga jagung lokal sudah mencapai Rp 6.500/kg.

Dia melanjutkan, kondisi ini diperparah dengan ditahannya pasokan 600.000 ton dari sisa kuota impor tahun lalu oleh Kementan. Saat ini jagung impor tersebut dilarang dikeluarkan dari gudang, sebagian lagi masih tertahan di pelabuhan.

“Realistis saja, kita dukung pemerintah, tapi kalau hujan nggak turun bagaimana? Data Kementan menyatakan produksi surplus, tapi kenyataan di lapangan harganya Rp 6.500/kg, itu tanda permintaan melampaui pasokan yang ada,” tutupnya.

Sumber:?http://finance.detik.com/