PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Jangan Memaksakan Diri, Ini Aneka Risiko Kesehatan di Balik ‘Gila Kerja’ | PT Rifan Financindo Berjangka

98f053c2-5e83-45c4-b7a3-a11b9cf71d21_43

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -?Segala hal yang berlebihan itu tidak baik, tak terkecuali berlebihan dalam bekerja. Ya, beberapa orang rela menghabiskan lebih banyak waktunya untuk bekerja karena berbagai alasan.

Ciri orang yang ‘gila kerja’ atau workaholic salah satunya adalah jika menghabiskan banyak waktu untuk bekerja dan sulit memisahkan diri dari hal-hal terkait pekerjaan bahkan di hari libur. Tapi ingat, harus juga dipahami bahwa tubuh manusia bukanlah robot. Karena itu, penting memberi tubuh waktu untuk istirahat dan bersantai jika memang sedang libur.

Hal ini tidak hanya harus dipahami pekerja, namun juga pemberi kerja. Sebab peningkatan input, dalam hal ini jumlah jam kerja seseorang, sejatinya tidak selalu menghasilkan output yang sama besarnya.

Dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, berikut ini aneka risiko kesehatan yang mungkin dihadapi mereka yang ‘gila kerja':

1. Meningkatkan Risiko Stroke

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet menemukan orang yang bekerja selama lebih dari 55 jam dalam sepekan memiliki risiko lebih besar terkena stroke hingga 34 persen, dibandingkan mereka yang bekerja dalam waktu kerja yang standar. Penelitian kedua ini dilakukan terhadap 529.000 pria dan wanita yang dimonitor selama rata-rata 7 tahun.

Memang tidak ada hubungan langsung, namun para peneliti menyebut ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi ini. Misalnya kurangnya pergerakan fisik, tingkat stres yang tinggi, serta kecenderungan mengonsumsi minuman beralkohol. Selain itu orang yang lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja cenderung jarang mengunjungi dokter untuk berkonsultasi seputar masalah kesehatan mereka.

2. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Studi yang dilakukan University College London menemukan bahwa orang-orang yang menghabiskan waktu lebih dari 11 jam untuk bekerja berisiko terkena serangan jantung hingga 67 persen.

Sementara penelitian yang dilakukan University of Texas Health Center di Houston terhadap 1.900 partisipan selama 10 tahun mengungkap ada partisipan yang bekerja rata-rata 30 jam tiap pekan, risiko mengalami angina maupun serangan jantung meningkat hingga 40 persen. Risikonya mengalami penurunan pada partisipan yang bekerja 40-45 jam dalam sepekan, namun meningkat lagi secara signifikan pada partisipan yang bekerja lebih dari 46 jam.

Partisipan yang bekerja 55 jam tiap pekan memiliki risiko 16 persen lebih tinggi mengalami masalah kardiovaskular. Sedangkan ketika bekerja selama 60 jam tiap pekan, teramati peningkatan risiko sebesar 15 persen dibandingkan mereka yang bekerja 45 jam tiap pekan.

3. Meningkatkan Risiko Depresi Berat

Studi yang digelar Finnish Institute of Occupational Health menemukan seseorang yang bekerja lebih dari 11 jam berisiko dua kali lebih mungkin terserang depresi berat. Dengan kemungkinan 2,5 lebih tinggi menderita setidaknya satu episode depresi yang merugikan setelah enam tahun.

Profesor Jacques Snyman, eksekutif klinis program Zurreal4employers dari Agility Channel, sebuah lembaga yang bergerak di bidang manajemen SDM menyebut durasi kerja terbaik adalah 2-6 jam per hari. Jika dipaksakan, maka mulai jam ke-9, kinerja seseorang akan menipis dan produktivitasnya turun. Sebab seiring berjalannya waktu yang bersangkutan akan mengalami kelelahan.

4. Meningkatkan Risiko Pembekuan Darah di Dalam Pembuluh Vena

Dalam studi terungkap seseorang yang bekerja selama 10 jam per hari dan tidak beranjak dari meja kerjanya untuk istirahat makan siang, bisa meningkatkan risiko terserang deep vein thrombosis (DVT) atau pembekuan darah di dalam pembuluh vena.

Data juga menyebut jumlah pasien DVT yang berusia di bawah 40 tahun meningkat tajam dengan 94 orang meninggal dunia pada tahun 2010 atau naik sebesar 40 persen dari 40 korban meninggal pada tahun 2007. DVT yang mengakibatkan kematian diakibatkan karena pembekuan darahnya menyebar hingga ke paru-paru.

Menurut para pakar, cara terbaik untuk menghindari DVT adalah terus bergerak atau rutin melakukan latihan fisik, diet atau menurunkan berat badan, berhenti merokok serta makan makanan yang rendah garam dan lemak.

5. Mengalami Risiko Kemunduran Otak

Studi di Inggris yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology mengungkapkan manusia yang bekerja lebih dari 40 jam setiap minggunya akan meningkatkan risiko kemunduran otak yang lebih cepat pada pertengahan usianya.

Dari hasil penelitian diketahui pekerja yang menghabiskan sekitar 55 jam atau lebih waktunya untuk bekerja dalam seminggu menghasilkan skor yang lebih rendah pada tes vocabulary, baik di awal maupun akhir masa penelitian.

Dibandingkan mereka yang bekerja 35 dan 40 jam per minggunya, para pekerja yang bekerja 55 jam atau lebih menunjukkan kemunduran performa setelah selang waktu 5 tahun bekerja.

Peneliti berasumsi ini dikarenakan mereka yang bekerja dengan jumlah waktu yang panjang cenderung memiliki tingkat stres tinggi, kurang tidur dan jarang berolahraga. Meski hubungan antara tes kognitif dan kemampuan otak yang melemah pada para pekerja dengan jam terbang yang tinggi masih belum diketahui, namun peneliti menyarankan para pekerja bekerja sesuai dengan porsinya.

(id, RifanFinancindo)