PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Kecanduan Ponsel Bikin Remaja Berisiko Obesitas

b6d908f7-7216-4323-a7e5-75d1a4c04108_43

Jakarta, PT Rifan Financindo Berjangka – Batasi sebisa mungkin paparan terhadap ponsel dan gagdet sejak dini. Studi ungkap kecanduan ponsel bikin remaja berisiko tinggi kegemukan.

Demikian disampaikan oleh para peneliti dari Harvard T H Chan School of Public Health dan dikutip dari Times of India.

Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa remaja yang menghabiskan waktu lebih dari lima jam sehari untuk bermain ponsel, memiliki risiko 43 persen lebih tinggi untuk mengalami obesitas. Hal ini didapat jika dibandingkan dengan remaja yang menggunakan ponsel kurang dari waktu tersebut.

Mereka juga menemukan bahwa remaja yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk bermain ponsel dua kali lebih mungkin untuk berlebihan mengonsumsi minuman manis dan mengalami gangguan tidur. Para remaja ini juga menjadi lebih enggan untuk melakukan aktivitas fisik.

Studi ini sendiri dilakukan oleh tim peneliti Harvard, salah satunya Erica L. Kenney, terhadap studi-studi Youth Risk Behaviour Surveillance System antara tahun 2013 hingga 2015 dengan melibatkan 24.800 responden.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa membatasi anak-anak dan remaja bermain ponsel sama pentingnya seperti membatasi waktu menonton televisi. Semuanya sama-sama berkaitan dengan kesehatan,” imbuh Kenney.

Pembatasan ini bahkan bukan sekadar untuk bermain ponsel, tapi juga pembatasan keberadaan ponsel di kamar tidur anak dan remaja. Sebuah studi sebelumnya menegaskan bahwa penggunaan alat elektronik, baik itu ponsel, tablet maupun komputer dapat menurunkan kualitas tidur mereka.

Yang perlu dipahami, akar permasalahannya terletak pada perangkat yang digunakan. Peneliti menemukan, efek kurang tidur dan ngantuk di siang hari tetap terlihat pada anak atau remaja yang tidak menggunakan perangkatnya di malam hari.

“Selain menunda jam tidur mereka, cahaya yang dipancarkan dari perangkat ini juga mempengaruhi ritme sirkadian mereka,” jelas ketua tim peneliti Dr Ben Carter seperti dilaporkan CNN.

PT Rifan Financindo