PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Kembali Turun, Harga Minyak Dunia Jatuh ke Level Terendah Empat Tahun

minyak dunia

NEW YORK, Rifan Financindo??- Harga minyak turun lagi pada Senin (13/10/2014) waktu setempat (Selasa pagi WIB), dengan Brent mencapai terendah empat tahun. Penurunan ini di tengah meningkatnya kekhawatiran kelebihan pasokan setelah OPEC mengindikasikan bahwa para produsen tidak berniat untuk memangkas produksi.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November, turun delapan sen, menjadi ditutup pada 85,74 dollar AS per barel, harga terendah sejak Desember 2012.
Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman November, patokan internasional, turun 1,32 dollar AS menjadi ditutup pada 88,89 dollar AS per barel di perdagangan London, tingkat terendah sejak akhir 2010.
Pasar mengambil situasi bearish (tren melemah) setelah komentar-komentar terakhir dari beberapa anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menunjukkan kepuasan dengan situasi kelebihan pasokan, kata Matt Smith dari Schneider Electric.
Anggota terkemuka OPEC, Arab Saudi, menunjukkan bahwa pihaknya merasa nyaman dengan harga sekitar 90 dollar AS. Negeri padang pasir ini lebih memperhatikan pangsa pasar daripada harga.
Sementara itu, Irak menjadi anggota OPEC terbaru yang menurunkan harga jual, setelah langkah serupa dilakukan oleh Arab Saudi dan Iran.
“OPEC tetap memberikan tidak ada indikasi bahwa pihaknya mungkin mengambil langkah-langkah untuk menopang harga,” kata analis Commerzbank dalam sebuah catatan penelitian.
“Irak sekarang menjadi anggota OPEC utama ketiga yang secara signifikan menurunkan harga jualnya dibandingkan dengan harga patokan internasional,” tambah mereka.
Namun, Menteri Perminyakan Kuwait Ali al-Omair pada Minggu (12/10) mengatakan bahwa ia memperkirakan penurunan harga untuk memulihkan selama musim dingin di belahan bumi utara,tetapi OPEC tak mungkin untuk melawan penurunan harga dalam jangka pendek.
“Kami berharap (harga minyak) meningkat di musim dingin atau setidaknya mempertahankan tingkat saat ini,” kata Omair, dikutip oleh kantor berita resmi KUNA.
Ia optimistis emas hitam ini tidak akan turun di bawah 76-77 dollar AS per barel, yang merupakan biaya produksi di Rusia dan Amerika Serikat.
Penurunan ini diperkirakan karena faktor geopolitik, kenaikan persediaan dan perkiraan negatif untuk pertumbuhan ekonomi global, menurut Omair.
Dia mengatakan, Kuwait belum menerima undangan untuk pertemuan keadaan darurat OPEC guna membahas harga tetapi akan hadir jika itu dijadwalkan.
Sementara Venezuela pada Jumat (10/10/2014) lalu, mengatakan, akan meminta pertemuan OPEC luar biasa tersebut.
“Kami akan meminta pertemuan OPEC yang luar biasa,” kata Menteri Luar Negeri Rafael Ramirez, yang juga mantan menteri minyak negara itu dan mantan kepala perusahaan minyak milik negara PDVSA.
“Kami perlu mencoba untuk mengkoordinasikan semacam tindakan untuk menghentikan jatuhnya harga minyak,” tambah dia.
Sumber : http://rfn-financindo.com/