PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Kini Obat Hepatitis C Sudah Tersedia di Indonesia | PT Rifan Financindo Berjangka

3619f62f-acec-4be8-9dc3-500ef9410044_43

Jakarta,?Rifan Financindo Berjangka -?Penyakit hati hepatitis C merupakan salah satu penyakit kronis yang berbahaya bila tak ditangani dengan baik. World Health Organization (WHO) mencatat untuk wilayah Asia Tenggara saja diperkirakan ada sekitar 30 juta pengidap dan 160 ribu di antaranya meninggal tiap tahun.

Untuk menghadapi hepatitis C di Indonesia biasanya terapi kombinasi obat pegylated interferon dan ribavirin (Peg-IFN/RBV) yang digunakan. Hanya saja beratnya efek samping obat dan rendahnya keberhasilan terapi sering dikeluhkan oleh pasien sehingga pada tahun 2015 lalu muncul gerakan-gerakan mendorong pemerintah untuk menyediakan obat lain bernama sofosbuvir.

“Sofosbuvir itu lebih mudah karena pengonsumsian hanya 1 kali sehari dan berbentuk oral jadi diminum. Efek samping rendah hanya berupa perubahan mood namun tidak terlalu berpengaruh, sedangkan obat yang lama itu disuntik dengan rasa sakit,” kata Ayu Oktariani dari Ikatan Perempuan Positif Indonesia kepada detikHealth dan ditulis pada Kamis (28/7/2016).

Ayu yang juga tergabung dengan Koalisi Obat Merah bercerita pada saat itu Sofosbuvir masih belum mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga belum ada di Indonesia dan pasien harus berusaha ekstra untuk mendapatkannya. Umumnya India jadi negara tempat lari pasien mencari obat karena di sana sofosbuvir yang merupakan buatan perusahaan farmasi Amerika Serikat sudah dijual versi generiknya.

“Perjuangnya panjang sekali, dari teman-teman koalisi obat murah yang berasal dari kelompok dan masyarakat yang berjuang untuk obat murah khususnya Hepatitis C,” kata Ayu.

“Awalnya kita update mengenai obat ini, lalu kita tahu bahwa India menjadi salah satu negara yang mendistribusikan obat. Kemudian untuk melakukan pembuktian, kita (koalisi obat murah -red) membeli obat dengan melakukan pengawasan dokumen agar surat edar obat dapat keluar hingga juga melakukan aksi damai, membuat petisi dengan proses panjang, dan berujung pada keluarnya surat izin edar,” papar Ayu.

Pada tahun 2016 BPOM akhirnya mengeluarkan surat edar untuk sofosbuvir. Pendistribusiannya mungkin masih belum merata namun setidaknya pasien sudah tak lagi harus mencari ke luar negeri seperti dikatakan oleh Aditya Wardhana dari Indonesia AIDS Coalition.

Hanya saja satu hal yang dikeluhkan oleh Aditya adalah harga obat masih belum terjangkau oleh sejumlah pasien. Karena tergolong baru sofosbuvir belum masuk ke dalam obat yang ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Karena sofosbuvir sudah mendapatkan izin edar, harga obat kombinasi untuk 3 bulan sekitar 12 juta,” kata Aditya.

Di kota-kota besar pasien seharusnya sudah bisa dengan mudah mencari Sofosbuvir. Dr dr Rino Alvani Gani, SpPD, K-GEH, FINASIM, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mencontohkan untuk Jakarta misalnya stok obat banyak tersedia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

“Kalau RSCM sendiri sudah mudah didapatkan ya,” pungkasnya.

(id, Rifan Financindo)