PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Menakar Efek Brexit untuk Premier League dan Sepakbola Inggris

21804258-03e2-4cce-a6e6-6e517fccfb5c_169

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -?Brexit, salah satu istilah yang ramai diperbincangkan media internasional belakangan ini, terutama di Inggris. Apa itu Brexit dan apa dampaknya untuk sepakbola Inggris dan Premier League?

Singkatnya, Brexit –gabungan dari kata “British”/”Britain” dengan kata “exit”– adalah sebuah gerakan yang bertujuan agar Inggris Raya memisahkan diri dari Uni Eropa. Pada 2016 ini, Inggris Raya mengadakan referendum menyoal apakah Inggris Raya tetap bersama Uni Eropa atau keluar dari Uni Eropa.

Ini bukanlah referendum pertama. Pada tahun 1975, Inggris pernah melakukan referendum menyoal apakah mereka harus tetap bergabung dengan Masyarakat Ekonomi Eropa atau tidak. Kala itu, hasil referendum memutuskan Inggris Raya tetap bergabung dengan Masyarakat Ekonomi Eropa.

Jumat, 24 Juni 2016 pagi WIB, kubu yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa unggul dalam referendum. Inggris pun bercerai dari Uni Eropa. Brexit diikuti 33 juta warga Inggris dari 46 juta pemilih terdaftar.

Meski begitu, hasil akhir referendum Uni Eropa baru akan diumumkan secara resmi setelah seluruh hasil penghitungan suara dari 382 area pemilihan selesai dihitung. Hasil akhir referendum akan diumumkan di Manchester Town Hall, Manchester.

Penggerak Brexit, Nigel Farage, pun bersorak. Ia merayakannya dengan menyebutnya sebagai hari kemerdekaan Inggris. “Beranilah untuk bermimpi bahwa permulaan telah dimulai untuk Inggris yang merdeka,” ucap Farage, yang juga menjabat Partai Kemerdekaan Inggris (UKIP), seperti dilansir Reuters.

Efek keluarnya Inggris dari Uni Eropa tentu saja ada. Tidak hanya kepada Inggris sendiri, tetapi juga kepada negara-negara Uni Eropa lainnya. Seperti dilansir detikNews, dengan berada di luar Uni Eropa, Inggris akan kehilangan akses pada pasar bebas Uni Eropa dan artinya, Inggris harus mengupayakan kesepakatan perdagangan baru dengan negara-negara di dunia. Di sisi lain, Uni Eropa akan mengalami pelemahan ekonomi dan politik dengan keluarnya Inggris dari blok mereka.

Poundsterling dan Euro pun terjun bebas gara-gara Brexit. Poundsterling jatuh 9% ke level US$ 1,355. Jatuhnya lebih dari 15 sen, koreksi terdalam yang pernah dialami poundsterling dalam 30 tahun terakhir. Sementara euro anjlok 2,8% akibat sentimen Brexit. Koreksi yang dialami dua mata uang ini bahkan lebih parah dari yang terjadi saat krisis finansial global 2007-2008 lalu.

Melihat efek Brexit terhadap sosio-politik dan juga ekonomi, tentu saja efeknya juga berimbas ke ranah olahraga dan sepakbola. Dengan menjadi anggota dari Uni Eropa, para atlet yang juga berasal dari negara anggota Uni Eropa bebas bekerja dan keluar-masuk Inggris tanpa harus mendapatkan izin kerja. Ini berbeda dengan para atlet yang berasal dari negara non-Uni Eropa, di mana mereka (khususnya dalam sepakbola) harus bermain dalam persentase tertentu dalam jumlah total pertandingan tim nasional mereka beberapa tahun terakhir untuk bisa mendapatkan izin kerja.

Jika Inggris tidak menjadi anggota Uni Eropa sejak dulu, ada lebih dari 100 pemain tidak bisa berlaga di Premier League saat ini. Pemain-pemain seperti Dimitri Payet (West Ham United), N’Golo Kante (Leicester City) dan Anthony Martial (Manchester United) sudah pasti tidak akan mendapatkan izin kerja, sebab ketika mereka bergabung dengan klub masing-masing, mereka belum menjadi anggota dari timnas Prancis.

Gambaran lainnya, pemain-pemain seperti Philippe Coutinho dan Diego Costa bisa mendapatkan izin kerja dengan mudah karena mereka sudah mengantongi status kewarganegaraan negara Uni Eropa.

Yang dikhawatirkan oleh Premier League, keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan memengaruhi kadar kompetitif liga mereka. Maka, seperti dikabarkan The Telegraph, tidak mengherankan kalau Richard Scudamore, executive chairman dari Premier League, menyuarakan dirinya memilih agar Inggris tetap menjadi bagian Uni Eropa.

Kini, seluruh badan olahraga yang ada di Inggris bakal beradaptasi dan mengevaluasi peraturan-peraturan mana saja yang ada dalam manual mereka yang berkaitan dengan Uni Eropa. Jika Premier League mendapatkan keterbatasan untuk mendapatkan pemain-pemain top yang berasal dari negara-negara Uni Eropa, mereka bisa membayar lebih mahal untuk biaya transfer dan juga gaji.

Klub-klub Premier League juga bisa kalah bersaing dengan klub-klub yang berasal dari negara Uni Eropa untuk mendapatkan talenta-talenta muda berbakat yang juga berasal dari negara Uni Eropa. Gambaran singkatnya, klub seperti Leicester City tidak akan mudah menggaet pemain seperti Kante, sementara Arsenal bakal kesulitan mencari pemain seperti Cesc Fabregas atau Francis Coquelin.

Di sisi lain, keluarnya Inggris dari Uni Eropa juga dipandang sebagai keuntungan untuk talenta-talenta lokal. Dengan sulitnya mendapatkan pemain-pemain dari luar Uni Eropa, klub-klub Inggris, dan Premier League pada khususnya, tentu diharapkan lebih memaksimalkan dan memberikan kesempatan bermain untuk pemain-pemain asli Inggris.

Tidak hanya pemain, dampak bagus juga disebut bakal dirasakan oleh pelatih-pelatih lokal. Ini dianggap sebagai kesempatan bagi Inggris untuk memberikan kesempatan bagi pelatih-pelatih lokal untuk mencuat ke permukaan atau menghasilkan pelatih lokal baru yang berkualitas.

“Meninggalkan Uni Eropa bakal memberikan dampak besar pada sepakbola daripada yang dibayangkan orang-orang sebelumnya. Setengah dari Premier League pasti membutuhkan izin kerja,” ujar Rachel Anderson, yang bekerja sebagai agen sepakbola, kepada BBC.

“Dampak jangka pendeknya memang besar. Tapi, Anda juga bisa berargumen bahwa ini juga bisa menguntungkan jika memikirkan jangka panjangnya, di mana klub bisa berkonsentrasi pada pengembangan talenta lokal,” kata Anderson.

Efek Brexit juga diperkirakan berdampak pada kompetisi di negara Uni Eropa seperti Jerman. Seperti dilansir DW, musim panas lalu, klub-klub Premier League menghabiskan 220 juta euro untuk pemain-pemain yang berasal dari Bundesliga.

Kicker bahkan menulis editorial bernada satir dengan kalimat sebagai berikut: “Klub-klub Premier League yang super kaya terus memompa uang pada siklus Bundesliga. Scouting yang andal, edukasi yang solid, kompetisi dengan level yang tinggi, penjualan yang menguntungkan –semua ini akhirnya terbayar.”

Tentu, para penggemar Bundesliga boleh jadi senang melihat bintang-bintang liga mereka bertahan di Jerman. Namun, seperti diprediksi oleh DW, ini bisa mengubah cara klub-klub seperti Borussia Moenchengladbach dan Bayer Leverkusen beroperasi. Mereka bukan klub kaya seperti Bayern Munich, dan oleh karenanya, kerap mengharapkan klub-klub Premier League datang dan memberikan tawaran mahal kepada pemain bintang mereka.

Sumber: Detik?