PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Menyusur Jalur Lahar Lereng Gunung Agung | PT Rifan Financindo

49e7ef08-d960-4e3c-91be-f71a00683cfe_169

Jakarta, RifanFinancindo – Gunung Agung sedang tidak bersahabat. Setelah puluhan tahun ‘tertidur’, Gunung Agung kini berpotensi besar melepas ‘amarahnya’.

Status gunung dengan ketinggian 3.142 mdpl itu sudah ditingkatkan menjadi awas sejak Jumat 22 September 2017 lalu. Ribuan warga pun berduyun-duyun mengungsi, menjauh dari lereng dan kaki gunung.

Berbagai lereng dari Gunung Agung yang berada di Kabupaten Karangasem, Bali itu tampaknya memiliki ciri khasnya tersendiri.

Salah satunya yang berada di sisi utara dari Gunung Agung, tepatnya di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem. Desa ini hanya berjarak sekitar 7,5 kilometer dari Gunung Agung dan menjadi jalur lahar setiap kali erupsi.

Siang itu, Rabu (27/9) CNNIndonesia.com mencoba menelusuri Desa Tulamben untuk melihat lebih dekat bagaimana kondisi di desa tersebut usai ditinggalkan warganya mengungsi.

Karena jaraknya yang dekat, Desa Tulamben pun berada dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) I Gunung Agung, sehingga warga desa tersebut diharuskan mengungsi demi keselamatan mereka.

Desa tersebut terlihat sangat gersang. Ditambah teriknya matahari, membuat hawa di sekitar makin terasa panas.

Saat melintas di jalan utama Desa Tulamben, di sisi kiri dan kanannya terlihat betapa tandusnya tanah di sana. Rerumputan tampak kering dan banyak pohon yang terlihat mati.

Sementara jika melihat ke arah depan, Gunung Agung langsung tampak di depan mata dan terlihat begitu gagah menjulang ke langit. Tak salah memang jika Gunung Agung menjadi gunung tertinggi yang ada di Pulau Bali. Gunung ini juga dianggap sebagai gunung suci bagi masyarakat Bali.

Tandusnya tanah di Desa Tulamben dikarenakan desa tersebut merupakan jalur lahar Gunung Agung yang langsung menuju ke laut di bawahnya. Jejak jalur lahar itu terlihat dari banyaknya endapan material vulkanik seperti bebatuan besar dan pasir.

Semakin mendekat ke arah kaki gunung, di sisi kiri jalan terlihat ada sebuah cekungan besar yang makin memperjelas kalau tempat ini memang merupakan jalur aliran lahar Gunung Agung.

Masih Ada Aktivitas

Suasana di Desa Tulamben secara umum tampak sepi. Rumah-rumah banyak yang kosong ditinggal penghuninya yang sudah mengungsi.

Meski begitu, saat menyusuri desa tersebut, CNNIndonesia.com masih menemukan adanya aktivitas warga yang sedang berada di rumahnya. Salah satunya Ketut Putra, warga Banjar Batudawa Kelod, Tulamben.

Sudah lima hari Putra dan lima orang anggota keluarganya mengungsi ke posko pengungsian yang berada di Puri Bukit Hyang Api, Karangasem.
Menyusur Jalur Lava Lereng Gunung Agung

Selama mengungsi, Putra memang selalu menyempatkan pulang setiap pagi hingga siang hari. Alasannya, ia harus memberi makan hewan ternak peliharaannya.

“Pagi siang ke rumah, masih ada babi di rumah, belum bisa ditinggalkan, saya pulang sebentar saja,” kata Putra saat ditemui CNNIndonesia.com, Rabu (26/9).

Namun, siang itu, ketiga babi miliknya telah diungsikan sehingga ia tidak perlu kembali lagi ke rumahnya di hari-hari berikutnya.

Menurut Putra, pada pagi dan siang hari beberapa warga memang kerap kembali ke rumahnya. Mereka beralasan hewan ternak milik mereka belum bisa diungsikan dan harus diberi makan.

“Kebanyakan petani ternak di sini,” ucapnya.

Putra juga menceritakan sempat ada beberapa warga yang menolak instruksi Pemkab Karangasem untuk mengungsi.

“Masyarakat di sini bandel-bandel, berangkat kamu sekarang tetap balik ke sini, masyarakat di sini sok jago,” ujarnya.

Lain lagi dengan Ketut Suliastri yang sempat membuka warung miliknya ketika ia kembali ke rumahnya. Suliastri mengaku hanya ia sendiri yang kembali ke rumah, lantaran anak dan suaminya sedang berada di Denpasar.

Suliastri pun juga sudah mengungsi semenjak Gunung Agung berstatus awas. Namun, ia tidak mengungsi ke posko melainkan ke rumah temannya.

“Saya mengungsi ke tempat teman,” katanya.

Saat ditemui ini, ia tengah menunggu kendaraan yang akan membawa sapi miliknya untuk diungsikan ke tempat yang aman. Sama dengan warga lain, Suliastri juga kembali ke rumah dengan alasan hewan ternaknya.

“Ini sambil nunggu kendaraan buat angkut sapi,” ujarnya.

sumber: cnnindonesia

PT Rifan Financindo Berjangka