PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Pujian IMF Untuk Ekonomi RI | PT Rifan Financindo Berjangka

29d40de4-857f-41a8-a8a8-ba0491fa6e69_169

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka – Pada 7-8 November 2016 lalu, tim dari International Monetary Fund (IMF) mengunjungi pemerintah dan bank sentral Indonesia, untuk melihat kondisi dan prospek perekonomian Indonesia.

Tim IMF dipimpin Luis E. Breuer, juga mendatangi perwakilan swasta, akademisi, dan mahasiswa untuk mengecek kondisi perekonomian terkini.

“Ekonomi Indonesia melanjutkan kinerjanya yang baik, didorong olah bauran kebijakan makro ekonomi yang prudent dan reformasi struktural. Otoritas di Indonesia memiliki kemampuan yang penuh untuk menavigasi ekonominya di tengah perubahan kondisi ekonomi internasional saat ini. Pertumbuhan ekonomi terus menguat, inflasi turun signifikan, dan defisit transaksi berjalan terjaga. Pencapaian ini menandakan prospek ekonomi yang baik,” tutur Breuer dalam keterangannya yang dikutip detikFinance, Jumat (25/11/2016).

Breuer mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2016 adalah 5%, dengan sokongan dari konsumsi rumah tangga yang kuat.

Sementara di 2017, pertumbuhan ekonomi Indonesia diharapkan bisa mencapai 5,1%, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi swasta, yang mulai naik karena pulihnya harga komoditas dunia, dan rendahnya suku bunga.

Hingga akhir 2016 ini, laju inflasi di Indonesia diperkirakan sekitar 3,3%. Sementara defisit transaksi berjalan diproyeksikan 2% dari PDB di 2016 ini, dan 2,3% dari PDB di 2017.

“Risiko dari ekonomi Indonesia datang dari ketidakpastian kebijakan pemerintah baru Amerika Serikat, ketatnya kondisi sektor keuangan dunia, perlambatan ekonomi China, pengetatan moneter di AS, dan penurunan harga komoditas,” jelas Breuer.

Sementara risiko dari dalam negeri adalah, minimnya bantalan fiskal, karena penerimaan pajak yang tidak mencapai target.

Strategi fiskal pemerintah dengan memperluas basis penerimaan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meski tetap efisien dengan menjaga defisit tidak melebihi 3% dari PDB, memunculkan stabilitas.

“Di 2017 pemerintah kembali membangun bantalan anggaran dengan menurunkan defisit anggaran. Pemerintah Indonesia juga berencana memperluas basis wajib pajak, dan memperbaiki subsidi yang lebih tepat sasaran, meningkatkan transfer ke daerah, dan memastikan pembiayaan untuk investasi publik dan program sosial,” kata Breuer.

Dia juga menyinggung soal arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang dinilai sudah sesuai. BI menurunkan suku bunga acuannya di 2016, di tengah kondisi inflasi yang menurun dan berkurangnya tekanan dari eksternal.

“Implementasi dari suku bunga acuan baru (7 days repo rate) berjalan dengan halus. Ini memberikan kepastian bagi pihak eksternal. Dan kami juga menyambut keputusan terkini BI yang mempertahankan besaran suku bunga acuan, dan juga kebijakan nilai tukarnya,” kata Breuer.

Kemudian, sektor keuangan Indonesia juga terjaga dengan baik. Perbankan masih bisa meraup keuntungan. Namun, kredit bermasalah (NPL) naik dari tingkat yang rendah.

IMF menilai, ada progres yang baik dengan disetujuinya Undang-Undang Jaring Pengaman Sektor Keuangan. Progres juga sudah dilakukan Indonesia dengan mengonsolidasikan pengawasan sektor keuangan.

“Melanjutkan reformasi subsidi BBM di 2015, pemerintah Indonesia juga mulai melakukan reformasi untuk memperbaiki iklim bisnis, termasuk membangun infrastruktur, memperbaiki regulasi, membuka sejumlah sektor ekonomi kepada swasta, dan juga membuat formula baru upah minimum,” kata Breuer. (wdl/drk)

RifanFinancindo