PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Ragam Reaksi Pemerintah, BI & Pengusaha soal Jebloknya Rupiah ke Rp14 Ribu

ragam-reaksi-pemerintah-bi-pengusaha-soal-jebloknya-rupiah-ke-rp14-ribu-MrU9ZiXs7e

Jakarta, Rifan Financindo Berjanka –?PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) mengundang para pengusaha dan para menteri bidang ekonomi untuk berdialog mengenai jatuhnya nilai tukar dan IHSG. Tercatat pada perdagangan Senin 24 Agustus, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus level psikologis Rp14.000 per USD dan IHSG rontok sebesar 5 persen.

Sore harinya Jokowi pun langsung mengumpulkan para pengusaha, baik sektor swasta hingga BUMN untuk mengadakan rapat terbatas (ratas) membahas perkembangan ekonomi terkini di Istana Kepresidenan Bogor. Para pengusaha ini terdiri dari berbagai bidang, mulai dari perbankan, energi, pertambangan, konstruksi, pesawat terbang hingga investasi. Hadir pula Chief Executive Officer (CEO) MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) yang memberikan beberapa usulan kepada Jokowi.

Dalam sambutannya, Jokowi tidak ingin menjelaskan situasi ekonomi Indonesia yang sekarang kini dihadapi. “Tetapi, dalam kondisi seperti ini, memang kita harus punya tekad, punya bahasa yang santun, punya tindakan respons yang cepat sehingga problem-problem yang ada segera bisa kita atasi,” kata Jokowi di depan para pengusaha.

Usai ratas, para pengusaha, menteri, gubernur BI dan ketua DK OJK keluar secara bersamaan dengan menyampaikan beberapa statement hasil pertemuan tersebut. Banyak hal yang disampaikan dari pertemuan tersebut, mulai dari keluhan pengusaha, apa yang harus dilakukan pemerintah, hingga soal Rupiah serta deregulasi aturan untuk memperbaiki iklim investasi.

Berikut kutipan para menteri dan pengusaha mengenai situasi jatuhnya Rupiah, yang dirangkum Okezone:

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution

Dirinya menjelaskan, dalam pertemuan tersebut, tidak membahas secara langsung anjloknya nilai tukar Rupiah. Pertemuan tersebut lebih kearah tukar pendapat dan memberikan saran hingga kritik kepada pemerintah dari pengusaha untuk mengatasi perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Hari ini bukan menjawab situasi hari ini. Ini untuk menjawab perkembangan belakangan ini yang belum muncul juga obatnya,” kata Darmin.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro

Mantan kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) ini menyatakan, dalam pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan para pengusaha nasional, baik sektor swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyepakati akan bergerak bersama dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

“Intinya mendorong swasta BUMN dan Pemerintah sama-sama gerak. Bagus mereka juga semangat,” kata Bambang.

Gubernur BI Agus Martowardojo

Bank Indonesia pun membantah pemanggilan para pengusaha serta para menteri ekonomi adalah kepanikan Presiden Jokowi akibat anjloknya nilai tukar Rupiah yang menembus level psikologis mencapai Rp14.000 per USD.

“Enggak (panik), justru ini kita melihat semuanya dilakukan kordinasi dengan baik. Justru pemerintah yang tidak melakukan koordinasi itu yang tidak menyikapi dengan baik,” tegas Agus.

Pengusaha

CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo menyebut, kondisi perekonomian Indonesia saat ini tidak seburuk apa yang digambarkan beberapa pihak. Pemerintah dan pengusaha telah sepakat akan terus berkoordinasi dalam mengatasi perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Intinya tadi Pak Presiden, Pak Wapres, dan seluruh jajaran menteri, Pak Luhut, Gubernur BI, Pak Darmin memiliki perspektif bahwa kita tidak seburuk apa yang digambarkan,” terang HT.

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Franciscus Welirang

Dia mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di negara lainnya.

?Itu (IHSG jeblok) bukan hanya di sini doang, termasuk di mana-mana, tak hanya di Indonesia,? ucapnya.

Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaatmadja

Kondisi likuiditas perbankan cukup baik di tengah gejolak perlambatan ekonomi.

Pasalnya, di tengah perlambatan pertumbuhan perekonomian Indonesia, mulai dikhawatirkan banyak pihak akan terjadi krisis ekonomi seperti 1998 dan 2008. Hal ini mengacu anjloknya nilai tukar Rupiah di level psikologis mencapai Rp14.000 per USD dan runtuhnya IHSG mencapai 5 persen. Namun, pihak Bank Indonesia (BI) sudah membantahnya.

“Secara umum mengenai ekonomi terkini. Ya diminta masukan, kita situasi amanlah, likuiditas cukup, uang banyak, jadi enggak perlu dikhawatirkan,” kata Jahja.

Sementara itu, beberapa pengusaha juga ada yang mengeluh beberapa sektor, seperti sektor perbankan, energi, konstruksi, hingga penerbangan.

Sumber:?http://economy.okezone.com/