PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Remaja Umbar Foto Mesra di Media Sosial, Ini Kata Psikolog

5fc68163-138f-4496-9318-9d3048a7bfe9_43

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -?Media sosial seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang, termasuk para remaja yang memanfaatkan media sosial seperti Instagram untuk mengabadikan momen tertentu mereka bersama teman-teman atau pacarnya.

Tetapi tak jarang, justru ada beberapa remaja yang kerap mengunggah foto-foto mesra dengan sang pacar bahkan cukup tergolong intim. Namun intim yang dimaksud di sini adalah melibatkan hubungan fisik, seperti berpelukan, berciuman, duduk berpangkuan, dan lain sebagainya.

Salah satu yang masih melekat di ingatan adalah seorang remaja bernama Karin Novilda yang semakin terkenal di Instagram karena kerap mengunggah foto-foto mesra bersama mantan pacarnya. Selebgram dengan akun @awkarin ini juga memiliki lebih dari 680 ribu followers yang mayoritas adalah para remaja seusianya. Lantas bagaimana fenomena ini menurut para psikolog?

Psikolog Ajeng Raviando, pada dasarnya para remaja itupun ingin diperhatikan oleh orang lain. Terutama di sosial media, mereka akan membuat foto-foto di Instagram-nya sedemikian rupa sehingga orang tertarik untuk melihat apa yang dia lakukan. Mereka seolah memiliki konsep bagaimana caranya supaya orang tertarik lihat.

“Kalau Awkarin kasusnya karena dia perlu orang untuk lihat Instagram dia dan menarik perhatian, karena yang aku tahu dia di-endorse juga, itu yang buat dia punya konsep gmn caranya supaya orang tertarik lihat jadi dia perlu mengekspos sesuatu, nah dia mengekspos kemesraan dengan pacarnya,” jelas Ajeng saat dihubungi Wolipop, Selasa, (3/8/2016).

Ia melanjutkan, jika tujuannya seperti itu, sangat berbeda dengan remaja yang sengaja mengumbar kemesraan untuk sekadar diperhatikan. Bahkan dulu di Facebook, para remaja seolah lebih bebas untuk mengunggah foto-foto mesra bersama pacarnya. Hingga pada suatu titik, orang menjadi jenuh melihatnya.

“Ada satu titik orang menjadi nggak nyaman bahkan terganggu dengan PDA itu. Sebetulnya apa yang mau diraih? Dari sisi si pelaku yang pasti dia ingin cari perhatian. Dari situ orang jadi banyak yang nge-like, atau jadi sebel dan ada haters-nya. Dan pada akhirnya yang dibutuhkan memang hanya perhatiannya,” lanjut psikolog kelahiran 1973 itu.

Ditambahkan oleh psikolog Elizabeth Santosa mengatakan adalah hal yang sangat natural jika seorang remaja ingin diakui menjadi orang dewasa dalam proses tumbuh kembangnya. Salah satu cara untuk mendapat pengakuan tersebut adalah dengan berdandan layaknya dewasa, padahal usianya masih cukup belia.

“Kenapa sekarang anak remaja dandannya lebih tua dari umurnya? Baru umur belasan sudah seperti umur 25 tahun karena mereka ingin dapat pengakuan. Mereka mau menjadi orang dewasa, tetapi lupa jika proses itu perlu transisi. Cara berpikirnya belum dewasa sehingga mereka hanya mengikuti tren dan gaya-gayanya saja,” tutur Elizabeth saat dihubungi Wolipop, Selasa, (3/8/2016).

Saat berusia remaja itu pula, anak-anak mulai mencari identitas dirinya. Mereka aktif mencoba hal-hal baru termasuk mengumbar kemesraan di sosial media, namun belum mampu untuk berpikir lebih panjang sehingga mudah terjerumus.

“Misalnya remaja tattoan, mungkin dia pikir sekarang tattoan nggak apa-apa. Tapi nanti pas mau menikah, kalau mertuanya tidak suka bagaimanya? Mereka belum berpikir karena memang kognitifnya belum mampu berpikir terlalu panjang, makanya jadi impulsif dan tidak ada kontrol diri sehingga rentan melakukan hal itu,” tutup psikolog tiga anak itu.

(id, RifanFinancindo)