PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Seberapa Perlu Melakukan Tes Minat Bakat pada Anak? | PT Rifan Financindo Berjangka

3c8b70b4-b0fb-4845-b98b-3ba2470bd65a_169

Jakarta,?Rifan Financindo Berjangka -?Orang tua boleh-boleh saja mengikutsertakan buah hatinya dalam tes minat bakat. Dengan begitu, bisa diketahui apa bakat dan minat si anak. Hanay saja, sebenarnya seberapa perlukah dilakukan tes ini pada anak?

“Tes minat bakat ini lebih ke misalnya ada anak atau orang tua yang bingung atau bimbang anak ini masuk ke jurusan (sekolah) mana,” kata psikolog anak dari TigaGenerasi Saskhya Aulia Prima MPsi, Psikolog, ditemui usia Konsulteatime yang diadakan TigaGenerasi dan Adalima di Gastromaquia, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

“Kan ada anak yang pengen sekolah di teknik tertentu tapi kemampuan visual spasialnya nggak sebaik itu. Jadi nanti kita arahin ke tempat lain. Kita bilang ke dia, kamu bisa sekolah di engineering tapi jangan langsung yang kayak teknik sipil, tapi teknik industri. Jadi kita cari dia senangnya apa, terus kita gabung sama potensinya dia,” lanjut Saskhya.

Namun, jika orang tua ingin mengikutsertakan anak dalam tes minat bakat boleh-boleh saja. Tetapi, disarankan saat anak berusia 14 tahun atau lebih karena di bawah usia 14 tahun minat anak masih bisa berubah-ubah. PAda anak usia di bawah 14 tahun, Saskhya lebih menganjurkan untuk mengikuti tes IQ.

Tujuannya, bukan untuk melihat berapa nilai IQ si anak, tetapi melihat kemampuan dia secara detailnya. Melalui tes IQ, dicontohkan Sakshya bisa diketahui bahwa anak memiliki kemampuan analisis yang baik atau menciptakan sesuatu yang baru. Dari tes IQ tersebut, bisa diketahui pula bagaimana kemampuan anak jika ia bekerja secara kelompok, menjadi pemimpin, atau melakukan pekerjaan yang butuh kreativitas.

Nah, tes minat bakat bisa dilakukan melalui lembaga psikologi. Tesnya pun disebutkan Saskhya bermacam-macam. Salah satunya adalah anak diminta menuliskan prioritas posisi jika ia berada di sebuah kepanitiaan. Selain itu, ada pula tes berupa hal-hal yang bersifat mekanis.

“Tesnya banyak banget makanya dilakukannya ini dari pagi sampai sore. Karena seharian, penting banget memastikan anak sebelumnya sudah tidur cukup, fisiknya pun fit. Selain itu, jangan terlalu diatur, artinya anak diminta belajar materinya apa. Kalau disuruh belajar gitu dia udah tahu dan bisa aja pas jawab pertanyaan udah hafal. Jadi biarkan anak benar-benar menggunakan kemampuannya,” papar Sakshya.

(id, RifanFinancindo)