PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Sengit! Perang Smartphone di Awal Tahun

Sengit! Perang Smartphone di Awal Tahun
Jakarta, Rifan Financindo Berjangka – Vendor China tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Harga murah sudah bukan lagi barang dagangan utama mereka. Di sisi lain, sang penguasa pasar pun takkan sudi dikudeta.

Sengit! Ya, itulah kira-kira gambaran persaingan para vendor ponsel di awal tahun 2016. Genderang perang bahkan sudah ditabuh sebelum Mobile World Congress (MWC) 2016 resmi dibuka.

Mencuri start atau apapun namanya ‘dihalalkan’ di sini. Yang penting, semua sorot mata dan kamera berhasil mereka dapatkan untuk membuat produk jagoannya jadi perbincangan dunia.

Menurut Gagdet Enthusiast Lucky Sebastian, sejatinya di tahun 2015 perkembangan smartphone sudah sangat menarik dengan beragam inovasi. Tapi di tahun 2016 sepertinya bisa lebih ‘gila’ lagi. Terlebih di awal tahun, persaingan panas sudah terlihat.

“Terlihat bukan hanya global brand sebagai pemain lama, seperti Samsung, LG, Sony, Apple, yang banyak keluar tenaga. Ternyata brand China sekarang benar-benar mau menunjukkan bahwa mereka mau go global sebagai petarung baru melawan dominasi brand global yang sudah lama dikenal,” ungkap Lucky saat berbincang dengan detikINET, Kamis (25/2/2016).

Lucky melanjutkan, setelah Samsung Galaxy S7 dan LG G5, sekarang dunia diajak berpaling ke brand China. Xiaomi dengan ‘amunisi’ bernama Mi 5 memberi spesifikasi jeroan hampir sejajar dengan brand global dan masih menggunakan ramuan yang sama, harga lebih murah.

“Xiaomi juga sudah berani menunjukkan diri ke pasar global dengan melakukan lauching flagshipnya bukan lagi seperti biasanya di negeri sendiri, tapi memanfaatkan ajang global MWC, untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka siap menjadi pemain global,” imbuh dedengkot komunitas Gadtorade ini.

Dari sisi keberanian jor-joran terhadap spesifikasi juga dilakukan brand China lain, seperti Vivo yang mau mencoba memberikan RAM sebesar 6 GB.

Oppo pun tak kalah garang, berani menantang inovasi dari brand global dengan memperlihatkan charging cepat yang diklaim paling hebat serta teknologi image sensor yang memiliki stabilisasi digital yang dikatakan memiliki teknologi baru yang lebih baik daripada OIS konvensional yang digunakan oleh brand global secara umum.

Brand China lain yang coba menembus pasar global adalah Huawei dan Lenovo yang sekarang sudah lebihpede karena memiliki brand global Motorola.

Lucky berpendapat, sulitnya teknologi baru yang coba diusung brand global seringkali tidak mudah dipahami oleh banyak orang, atau setidaknya ada kendala untuk mengkomunikasikannya, yang terkadang diterjemahkan orang-orang awam bahwa inovasi masih berjalan di tempat.

Sementara brand China bisa memposisikan diri sebagai brand alternatif atau penyelamat yang menawarkan semua yang dimiliki brand global dengan harga pantas.

“Terkadang saking majunya teknologi yang ditawarkan brand global, setahun kemudian dipakai oleh brand China, tidak terasa ketinggalan dan malah menghadirkan teknologi yang terasa sekelas tetapi dengan harga yang ‘lebih pantas’, mengingat harga part teknologi sebenarnya akan turun setelah beberapa waktu,” pungkas Lucky.

Sumber:?http://inet.detik.com/