PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Serba-serbi Performing Rights | PT Rifan Financindo

1a6a2d43-3767-4c75-a025-e43479a84e47

Jakarta, Rifan Financindo – Belakangan, perihal performing rights tengah ramai diperbincangkan. Bermula dari vokalis Payung Teduh, Is, yang mengatakan protes atas lagu miliknya ‘Akad’ yang ramai dibawakan ulang oleh sejumlah pengguna YouTube.

Salah satu yang paling terkenal adalah lagu ‘Akad’ versi yang dibawakan oleh Hanin Dhiya. Berangkat dari YouTube, Hanin Dhiya bahkan tampil di salah satu stasiun televisi nasional membawakan lagu tersebut.

Yang dikeluhkan oleh Is sebenarnya sederhana, yakni masalah perizinan mengenai lagu tersebut. Dalam video yang diunggahnya di Instagram, Is mengaku menyayangkan para pengguna YouTube yang menyanyikan lagunya tanpa izin.

Tapi benarkah membawakan lagu di YouTube harus meminta izin dan membayar royalti kepada si empunya lagu?

Bagaimana dengan lagu-lagu penyanyi senior yang dibawakan ulang oleh musisi pendatang baru yang belum memiliki lagu sendiri di panggung? Atau lagu yang kerap diputar di restoran dan transportasi umum?

Semua lagu yang diputar di tempat umum untuk kepentingan komersil seharusnya dikenakan royalti dalam hal performing rights.

Sebenarnya performing rights ini pun bukanlah hal baru. Awalnya, hak cipta untuk penampilan tersebut diberlakukan karena adanya sandiwara radio.

Lalu, dibayarkan kepada siapa kah performing rights tersebut? Bagaimana skema pembayarannya? Bagi yang penasaran, apa itu performing rights, detikHOT hari ini akan membahas segala serba-serbi mengenai hal tersebut. Nantikan ulasannya!

Mungkin banyak di antara kita belum mengenal apa itu performing rights. Sederhananya, performing rights adalah hak untuk penggunaan musik yang diperdengarkan di tempat umum, misalnya di kafe, transportasi, radio, konser, dan lain-lain.

“Jadi misalkan diberlakukannya selama musik itu digandakan di tempat publik, misalnya kita beli CD, kita dengarkan sendiri, itu hak kita, tapi ketika kita punya restoran dan kita perdengarkan di restoran, haknya itu hilang, karena kan kalau CD dilarang menggandakan,” ujar Chico Hendarto dari Wahana Musik Indonesia (WAMI) ditemui di Thamrin, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Artinya, jika sebuah lagu diperdengarkan untuk kepentingan komersil, lagu tersebut harus memiliki performing rights dan membayar royalti.

sumber: detik