PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Studi: Hadiah Uang Bisa Bantu Berhenti Merokok | PT Rifan Financindo Berjangka

Studi: Hadiah Uang Bisa Bantu Keberhasilan Berhenti Merokok

Jakarta,?Rifan Financindo Berjangka -?Peneliti Prof Hasbullah Thabrany dari Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Manusia, Universitas Indonesia, baru-baru ini kembali mendapat perhatian dengan studinya terkait rokok. Ia memaparkan survei yang menyebut 72,3 persen perokok Indonesia setuju akan berhenti apabila harganya dinaikkan.

Nah terkait hal tersebut peneliti dari Swiss juga melakukan studi serupa dengan mempertimbangan faktor ekonomi namun pendekatannya berbeda. Pemimpin studi Jean-Francois Etter dari University of Geneva melakukan eksperimen memberi hadiah uang bagi perokok yang berhasil berhenti.

Sebanyak 800 partisipan perokok dari kalangan berpenghasilan rendah dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing diberikan pedoman untuk berhenti. Satu kelompok diberi tambahan yaitu dijanjikan bisa mendapat hadiah uang 100 dolar atau sekitar Rp 1,3 juta apabila bisa berhenti merokok dalam minggu pertama sementara kelompok lainnya sebagai kontrol.

Jumlah hadiah akan terus meningkat apabila sang perokok bisa tetap berhenti hingga akhir masa studi yaitu 6 bulan. Hadiah terakhir yang dijanjikan 440 dolar atau sekitar Rp 5,8 juta.

Hasilnya setelah enam bulan studi berjalan ada 36 persen perokok dari kelompok yang menerima insentif berhasil berhenti sementara dari kelompok kontrol hanya 6 persen saja. Setelah setahun angka tersebut berkurang menjadi 10 persen pada kelompok penerima insentif dan 4 persen pada kelompok kontrol.

“Uang menjadi kompensasi atas hilangnya aktivitas yang dihargai (merokok) dan meningkatkan baik kemungkinan mencoba untuk berhenti serta kemungkinan untuk berhasil,” kata Etter seperti dikutip dari Reuters, Kamis (1/9/2016).

Meski ada banyak bentuk terapi berhenti merokok, uang dijadikan Etter sebagai subjek penelitian karena dinilai paling berpengaruh untuk perokok kelas ekonomi bawah.

“Banyak metode intervensi berdasarkan pendidikan cenderung bekerja kurang baik pada kelompok orang dengan pendapatan dan pendidikan rendah di mana prevalensi merokoknya sangat tinggi,” pungkas Etter.

Studi ini sendiri telah dipublikasi di Journal of the American College of Cardiology.

(id, RifanFinancindo)