PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Telkomsel Siapkan ‘Amunisi’ Hadapi Polemik Interkoneksi | PT Rifan Financindo Berjangka

17b3e8a7-1d81-42ea-b1c1-67155512705e_169

Jakarta,?Rifan Financindo Berjangka -?Telkomsel telah resmi mengajukan surat keberatan terkait tarif baru interkoneksi yang ditetapkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengutarakan, keberatan ini muncul setelah melihat proses perhitungan tarif baru interkoneksi oleh kominfo dianggap tidak pas dengan kondisi di lapangan.

Di aturan memang tidak disebutkan perhitungan tarif interkoneksi harus berdasarkan metode simetri atau asimetri. Yang disebutkan adalah berbasis biaya masing-masing operator, tetapi karena operatornya berbeda-beda maka dalam arti luas jaringan, biaya dan lainnya.

“Namun meski ada beberapa pertimbangan, tetapi yang paling menentukan adalah luas jaringan, karena operator yang punya 10 BTS dan 1.000 BTS kan biayanya berbeda. Dan pada saat kondisi operator berbeda — tidak seimbang ? maka otomatis biaya yang dikeluarkan juga berbeda, dan otomatis jadi asimetris. Seharusnya begitu,” jelas Ririek.

“Prosesnya menurut kita gak pas, secara perhitungan gak pas, dimana harusnya berbasis biaya. Kita keberatan dengan cara itu,” lanjutnya.

Kominfo sendiri telah menetapkan tarif baru interkoneksi melalui Surat Edaran No. 1153/M.Kominfo/PI.0204/08/2016 dan akan diberlakukan mulai 1 September 2016 sampai dengan Desember 2018.

Namun sebelum masa berlaku tarif baru interkoneksi itu dimulai, Telkomsel sudah menyampaikan surat keberatan untuk meminta penjelasan pada 11 Agustus 2016. Hanya saja, menurut pengakuan Telkomsel, surat keberatan itu belum dijawab Kementerian yang dipimpin Menteri Rudiantara tersebut.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, jika usaha meminta klarifikasi Telkomsel itu menemui jalan buntu dan Kominfo bergeming dengan keputusannya, maka apa yang akan dilakukan Telkomsel?

Ririek memastikan, Telkomsel sudah memiliki sejumlah ‘amunisi’ yang bisa dipilih. “Kita belum memutuskan bakal mengambil langkah apa. Tetapi kami sudah mempertimbangkan beberapa opsi,” imbuhnya.

Sayangnya, orang nomor satu di Telkomsel itu belum mau mengungkapkan lebih detail ‘amunisi’ apa saja yang ia miliki. Ia hanya memberi bocoran yakni kemungkinannya Telkomsel bisa saja menerima, mempertanyakan, atau mengadukan tarif baru interkoneksi ini.

“Tapi harapan kita surat keberatan itu direspons dulu oleh Kominfo,” singkatnya.

Tarif baru interkoneksi ini sendiri memiliki 18 skenario. Dimana untuk percakapan suara lintas operator (off-net) untuk penyelenggara jaringan bergerak seluler adalah Rp 204, turun dari sebelumnya Rp 250.

Adapun dampak perubahan tarif interkoneksi bisa berdampak langsung atau tidak langsung terhadap bisnis Telkomsel. Untuk dampak langsung bakal mempengaruhi revenue dari interkoneksi. Sementara dampak tidak langsungnya adalah, gap di antara operator pemilik jaringan yang besar dan kecil bakal menipis.

“Dan kalau kita sering dengar ada suara bahwa biaya interkoneksi turun dapat menurunkan tarif retail, itu juga belum tentu benar. Tarif (layanan suara) off-net kan di antara Rp 1.500-2.000 per menit, sedangkan tarif interkoneksi itu cuma berkontribusi 10-15% dari tarif retail, jadi gak terlalu signifikan,” Ririek memaparkan.

(id, RifanFinancindo)