PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Tradisi Mudik ala Muslim Gorani di Kosovo | PT Rifan Financindo

b2846b75-cffb-49f0-a113-7762c54307f1

Jakarta, Rifan Financindo – Muslim menduduki angka yang cukup besar di Macedonia. Namun setelah pendudukan komunis, dua puluh tahun yang lalu, banyak warga muslim Macedonia yang bersembunyi, bahkan pindah ke negara lain.

Kosovo, adalah salah satu negara tetangga tujuan, dan berbatasan langsung dengan Macedonia. Kabarnya, ada satu suku muslim Macedonia yang menjalani kehidupan di kosovo. Sembilan puluh persen penduduk Kosovo adalah etnis Albania, yang mayoritas muslim.

Perjalanan tim Jazirah Islam dilanjutkan ke daerah Brod, area pegunungan di Kosovo. Pegunungan Semenanjung Balkan memang dihuni oleh sebagian besar Muslim di Eropa Timur. Saat perang perebutan kembali negara dari kekuasaan Turki Utsmani sekitar 5 abad yang lalu, banyak suku muslim yang lari ke pegunungan dan hidup turun temurun hingga saat ini.

Tak terkecuali Suku Gorani yang mendiami Desa Brod, Kosovo. Meski dihuni oleh mayoritas muslim, namun saya jarang menemukan wanita berhijab di desa ini. Bahkan sepertinya, jumlah warganya pun sangat sedikit.

Usut punya usut, ternyata banyak di antara penduduk Gorani di Brod, Kosovo, merantau ke negara lain untuk mencari nafkah. Hingga akhirnya desa pun ditinggal dan menjadi sepi.

Yang istimewa, justru gelar suku muslim yang disandang Gorani, adalah pemberian dari Joseph Broz Tito. Presiden Yugoslavia saat itu di tahun 1970-an, ingin memberi penghargaan dan identitas kepada komunitas warisan Turki Utsmani ini .

Namun ternyata Suku Gorani punya tradisi yang sangat menarik. Suku ini punya hari raya Djurdjevdan. Hari istimewa di mana semua Suku Gorani di seluruh dunia datang ke Desa Brod, atau bisa disebut dengan istilah pulang kampung.

Biasanya hari Djurdjevdan dirayakan di bulan Juni atau Juli, saat musim panas tiba. Kegiatan dilakukan di bukit, dan lapangan terbuka. Seluruh Suku Gorani datang untuk melepas rindu dan berkenalan satu sama lain.

Namun sesungguhnya, perayaan Djurdjevdan merupakan tradisi peninggalan zaman Romawi kuno ratusan abad lalu, saat menguasai Macedonia. Awalnya merupakan perayaan budaya, menyambut musim semi, yang hingga kini masih dipertahankan dan mengakar dengan kuat.

Semua orang yang datang, khususnya wanita wajib mengenakan pakaian tradisional saat hadir pada perayaan Djurdjevdan. Di Desa Brod, hanya ada satu penjahit yang memenuhi pesanan baju tradisional dari Suku Gorani.

Putih menjadi warna favorit. Melambangkan kesucian, elegan, dan mewah. Ditambah dengan hiasan kristal swarovski, menjadikan harga baju ini cukup tinggi, yaitu 600 Euro atau lebih dari Rp 7 juta.

Ciri khas pakaian Eropa Timur terletak pada rompi kecil ini. Hampir semua baju adat khasnya, mengenakan rompi seperti ini. Hanya saja dengan warna dan bahan yang berbeda-beda.

Karena tingginya permintaan, sang calon pengantin atau empunya hajat, harus memesan hingga 3 bulan sebelumnya. Baju pengantin Suku Gorani ini, merupakan desain turun temurun sejak Abad ke-14 saat mengabdi pada Turki Utsmani. Dengan potongan khas Turki, menggunakan celana harem dan kain mirip celemek.

Bentuk baju yang tak membentuk tubuh dan menutup aurat. Tak terkecuali bagian kepala yang juga mengenakan kerudung. Semakin mempertegas, bahwa ini adalah pakaian khas suku muslim .

Sungguh pengalaman yang luar biasa. Mengenal budaya Gorani, suku muslim Macedonia, di Desa Brod, Kosovo.

 

 

Rifan Financindo Berjangka