PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Twitter dan Amazon Masih Rugi Bisa Masuk Bursa, di Sini Bisa Nggak? | PT Rifan Financindo Berjangka

aaef178e-18cc-40b4-a6ba-d035a36ed0e6

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -?Perusahaan rintisan atau startup company punya peluang untuk bisa berkembang lebih besar dengan mencari permodalan di pasar modal melalui Initial Public Offering (IPO).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun memberi kesempatan untuk itu. Sayangnya, ada syarat yang harus dipenuhi sebelum startup masuk bursa, salah satunya mampu meraup untung paling tidak 1-2 tahun setelah IPO. Ini yang dinilai menjadi hambatan startup untuk bisa dengan mudah melenggang di bursa saham.

Namun, beda cerita dengan startup di luar negeri. Sebut saja, Twitter dan Amazon. Startup yang mendunia tersebut bisa masuk bursa meskipun belum meraup untung atau dengan kata lain masih mencatatkan kerugian.

Sebagai gambaran, dikutip dari berbagai sumber, IPO Amazon diterbitkan 15 Mei 1997, dengan harga US$18 per lembar saham. Sahamnya diperdagangkan di bursa NASDAQ, seperti sebagian besar perusahaan internet lainnya.

Rencana bisnis awal Amazon tidak mengharapkan untung selama empat hingga lima tahun. Para pemegang saham pada awalnya mengeluhkan pertumbuhan yang lamban, tetapi setelah ledakan gelembung dot-com di tahun 2000, Amazon bertahan dan mulai meraup untung.

Empat puluh persen penjualan Amazon dihasilkan dari program afiliasinya, yang disebut Amazon Associates, dan dari para penjual pihak ketiga.

Bagaimana dengan startup di Indonesia. Mungkinkah bisa masuk bursa meskipun belum untung?

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menyebutkan, salah satu yang tengah dikaji BEI untuk startup masuk bursa adalah soal potensi keuntungan. Paling tidak, kata Tito, perusahaan tersebut harus bisa memproyeksi dalam 1-2 tahun ke depan setelah IPO, perusahaannya bisa meraup untung.

“Jadi sebenarnya bagaimana kesiapan startup-nya sendiri. Saya ingin banget ketemu sama mereka karena ada beberapa perusahaan IT itu memproyeksikan untungnya sampai 5-10 tahun ke depan. Nah, itu yang kadang-kadang bursa meminta proyeksikan 1 sampai 2 tahun ke depan dong. Nah itu yang kadang-kadang enggak ketemu,” kata Tito saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (10/8/2016).

Menurutnya, soal teknis proses IPO tidaklah rumit. Hanya saja, bursa harus memastikan jika startup memiliki catatan laporan keuangan yang baik.

“Peraturan IPO itu enggak susah. Startup itu yang masih handycap adalah legal administrasi problem di internal mereka dan bagaimana membuat mengkapitalisasi program-program yang mereka buat. Itu problem di mereka sendiri karena kalau mereka rapi, di bursanya sendiri sudah siap kok,” jelas dia.

Hal lain yang juga menjadi syarat startup melantai di bursa adalah minimal aset bersih yang tercatat sebesar Rp 5 miliar.

“Di sini bisa pertanyakan saya, legal administrasi mereka sudah clean nggak. Kalau bursa sudah siap, Rp 5 miliar aset sudah bisa go public, tapi tahun depannya harus untung,” jelas Tito.

(id, RifanFinancindo)