PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA JAKARTA SC

Wall Street Melemah Tertekan Kekhawatiran The Fed

wall-street-melemah-tertekan-kekhawatiran-the-fed-iJfSUpFblF

Jakarta, Rifan Financindo Berjangka -?Saham AS ditutup melemah pada Senin karena banyak investor bertaruh akan hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve minggu ini. Selain itu, kekhawatiran tentang data ekonomi China yang lemah menambah pelemahan di Wall Street.

Mengutip laman Reuters, New York, Selasa (15/9/2015), saham diharapkan untuk tetap stabil menjelang pengumuman Federal Reserve dijadwalkan Kamis setelah pertemuan dua hari di mana ia akan memutuskan atau tidak untuk membuat kenaikan suku bunga pertama sejak 2006.

“Sama sekali tidak ada keyakinan naik atau turun. Semua orang menunggu di Fed,” kata strategi investasi global untuk Dana GuideStone, di Dallas, Texas David Spika.

The Fed mengatakan akan menaikkan suku ketika melihat pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dengan penekanan pada pekerjaan dan inflasi tapi sementara pasar pekerjaan membaik inflasi telah ditekan oleh harga minyak yang lemah.

Beberapa ekonom pekan lalu bertaruh pada September dengan selisih tipis untuk keputusannya. Ekonom di bank yang berhubungan langsung dengan Fed, yang dikenal sebagai dealer utama, mengambil Desember yang memungkinkan keputusan The Fed. Serta trader dari suku bunga berjangka jangka pendek yang memberikan tingkat yang naik minggu ini hanya satu berbanding empat untuk peluang kenaikan.

Saham telah stabil sejak Cina mendevaluasi mata uangnya pada bulan Agustus. The S & P 500 telah bergerak dari setidaknya 1 persen di lebih dari 10 sesi sejak 20 Agustus

Perdagangan lambat dengan sekira 5,4 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di bawah 8-miliar rata-rata harian selama dua puluh sesi sebelumnya, menurut data Thomson Reuters.

Dow Jones Industrial Average turun 62,13 poin atau 0,38 persen, ke 16.370,96, S & P 500 kehilangan 8,02 poin atau 0,41 persen ke 1.953,03 dan Nasdaq Composite turun 16,58 poin atau 0,34 persen ke 4.805,76.

Sembilan dari 10 sektor S & P anjlok, dipimpin oleh indeks bahan baku.

 

Sumber:?http://economy.okezone.com/